Tampilkan postingan dengan label Shahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Hakim yang Adil Di.....

Setiap pagi, Syuraih bin Al Harits Al Kindi berangkat ke tempat kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan kearifan pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang teguh. Ia adalah seorang Hakim yang disukai dan disegani masyarakat.

Syuraih terbiasa menghakimi kalangan Kaum Muslimin maupun orang-orang bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara Pejabat atau Rakyat Kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang adil dan bijaksana.

Hari itu Syuraih kedatangan Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Rupanya, Khalifah ‘Umar sedang mendapat masalah dengan seorang Pedagang Desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya.

Dengan wajah yang tenang dan berwibawa, Syuraih memimpin sidang pengadilan.

“Silakan Tuan Pedagang, apa yang mau Anda sampaikan ?” tanya Syuraih.

“Pak Hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu Amirul Mukminin membeli seekor kuda dari saya,” kata Pedagang. “Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin mengembalikannya lagi dan meminta ganti,” lanjutnya.

Syuraih lalu berpaling pada Khalifah ‘Umar. “Dan sekarang giliran Anda, ya Amirul Mukminin,” kata Syuraih.

“Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan berpenyakit sehingga larinya tidak kencang,” kata ‘Umar bin Khattab.

“Bagaimana Tuan ?” tanya Syuraih lagi.

“Saya tidak akan menerimanya lagi, karena saya sudah menjual kuda itu dalam keadaan sehat dan tidak cacat,” sahut Pedagang Kuda itu. Syuraih mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu, Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khattab.

“Apakah ketika Amirul Mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat ?” tanya Syuraih seraya menatap Umar.

“Ya benar !” jawab ‘Umar jujur.

Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu. “Nah, kalau begitu, peliharalah apa yang Anda beli. Atau bila ingin mengembalikannya, kembalikanlah seperti ketika Anda menerimanya,” tukas Syuraih dengan mantap.

Hati Amirul Mukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu.

“Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih ?” tanya ‘Umar setengah memprotes keputusan itu. Syuraih menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

Khalifah ‘Umar merenung beberapa saat. Benar sekali apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, ‘Umar dapat menerimanya. Jangan mentang – mentang ia pejabat, lalu harus selalu dimenangkan perkaranya. Sementara nasib Rakyat Kecil tidak diperhatikan.

Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh Syuraih. Pengadilannya adalah tempat mendapatkan tempat yang seadil-adilnya. Hingga pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib, Syuraih tetap memangku jabatan Hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakat kota Khuffah.

Suatu hari, Khalifah ‘Ali mendatangi Hakim Syuraih untuk mengajukan perkara dengan seorang Yahudi.

“Ada masalah apa, ya Amirul Mukminin?” tanya Syuraih.

“Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal, aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapapun,” sahut Khalifah ‘Ali.

“Bagaimana pendapatmu, wahai Tuan Yahudi ?” tanya Syuraih pada lelaki itu.

“Bukan ! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku.” Bantah orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat orang itu. Kemudian menoleh pada Khalifah ‘Ali.

“Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu ?” tanyanya lagi pada ‘Ali.

“Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin aku menjualnya di pasar ?” jawab ‘Ali kemudian.

“Aku tidak meragukan apa yang Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu,” kata Syuraih.

“Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi,” kata ‘Ali. Khalifah ‘Ali begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi Khalifah. Ia sangat berharap baju perangnya bisa dimilikinya kembali.

“Pembantuku, Qanbar, akan kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al Hasan, anakku,” sahut Khalifah ‘Ali bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran ucapannya.

“Ya, Amirul Mukminin ! Tidaklah sah kesaksian seorang anak terhadap ayahnya,” kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah.

“Subhanallah ! Kesaksian Al Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima,” ucap ‘Ali mengeluh sedih.

“Betul ! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya,” tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah. Walaupun itu menyangkut Khalifah besar, seorang ayah dari pemuda penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah.

Khalifah ‘Ali menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali.

“Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu,” kata ‘Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya ! Jauh di lubuk hati, Khalifah ‘Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak dengan benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah.

“Ya Amirul Mukminin !” Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah ‘Ali.

“Memang betul ! Baju perang ini milikmu ! Hari ini, aku melihat seorang Hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku. Sungguh ! Aku lihat Islam melakukan kebenaran ! Saat ini juga aku akan menjadi penganut Islam.......,” kata orang itu.

“Pak Hakim yang mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang Amirul Mukminin sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin !” sahut orang Yahudi itu mengakui yang sebenarnya.

Mendengar perkataan orang itu, khalifah ‘Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia.

“Karena kau sudah masuk Islam, maka kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini,“ sahut Khalifah ‘Ali dengan tulus.

Sungguh mengagumkan keputusan yang diberikan Hakim Syuraih !. Dan sangat berbeda dengan apa – apa yang terjadi dengan Para Hakim masa kini. Mereka sangat mudah sekali untuk disuap. Karena memang mereka menjadi Hakim, hanya untuk mencari dan memperbanyak uang saja, bukan untuk menegakkan perkara dengan adil dan benar. Karena prinsip mereka, ‘Siapa yang bisa membayar lebih tinngi, maka dialah yang menang’.


Timbangan Gadis yang Jujur

Khalifah ‘Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah ‘Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah ‘Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik, Khalifah ‘Umar mengintipnya. Tampaklah seorang Ibu dan Anak Perempuannya yang sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya bisa mendapat beberapa kaleng susu hari ini,” kata Anak Perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.” Lanjut Anak Perempuan tersebut.

“Benar Anakku,” kata Ibunya.

“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu yang sangat banyak,” harap Anaknya.

“Hmmm....., sejak Ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata Ibunya.

Anak Perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

“Nak,” bisik Ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air, supaya penghasilan kita cepat bertambah banyak.”

Anak Perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah Ibunya yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan Ibunya.

“Tidak, Bu !” katanya cepat.

“Khalifah melarang keras semua Penjual Susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada Pembeli.

“Ah ! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu ? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu Ibunya kesal.

“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada Pembeli ?”

“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air ! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah ‘Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata Ibunya tetap memaksa.

“Ayolah Nak, mumpung sedang tengah malam. Tak ada yang melihat kita !”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita, serapi apa pun kita menyembunyikannya,” tegas Anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar Anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran Anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata Anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, Ibunya pergi ke kamar. Sedangkan Anak Perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah ‘Umar tersenyum kagum akan kejujuran Anak Perempuan itu.

“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah !” gumam Khalifah ‘Umar. Khalifah ‘Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Khalifah ‘Umar memanggil putranya, ‘Ashim bin ‘Umar. Di ceritakannya tentang Gadis jujur Penjual Susu itu.

“Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah ‘Umar.

“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai Gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”

‘Ashim bin ‘Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian ‘Ashim melamar Gadis itu. Betapa terkejut Ibu dan Anak Perempuan itu dengan kedatangan Putra Khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

“Tuan, Saya dan Anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami....,” sahut Ibu tua ketakutan.

Putra Khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting Anak Gadisnya.

“Bagaimana mungkin ? Tuan adalah seorang Putra Khalifah , tidak selayaknya menikahi Gadis miskin seperti Anakku ?” tanya Ibu tua itu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajat seseorang disisi Allah,” kata ‘Ashim sambil tersenyum.

“Ya. Dan Aku melihat Anakmu adalah seorang Gadis yang sangat jujur,” kata Khalifah ‘Umar.

Anak gadis itu saling berpandangan dengan Ibunya. Bagaimana Khalifah tahu ? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...,” jelas Khalifah ‘Umar.

Ibu itu bahagia sekali. Khalifah ‘Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah ‘Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai Anak dan Cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin Bangsa Arab.


Utusan Si Pemerah Susu

Abu Bakar r.a setiap hari berkeliling di perkampungan Madinah. Ia terbiasa berkunjung ke rumah – rumah Janda tua dan rumah anak – anak yatim piatu.

“Assalamu’alaikum...,” salamnya di depan pintu rumah seorang Janda tua.

“Wa’alaikummussalam... !” jawab Janda tua. Dibukanya pintu, lalu wajah perempuan tua itu menjadi berseri – seri.

“Oh, Abu Bakar rupanya,” sambutnya gembira.

“Nek, apa mau kuperahkan susu kambingnya ?” tanya Abu Bakar.

“Tidak usah, Tuan...” dengan malu-malu, perempuan tua itu mencoba menolak. Tapi, Abu Bakar mengetahui kalau kedatangannya memang sangat membantu pekerjaan perempuan tua itu.

“Mari Nek, aku bantu memerahkan susunya,” kata Abu Bakar tersenyum.

Abu Bakar pun memerahkan susu kambing sampai semua wadah terpenuhi. Sedangkan perempuan tua itu memandangi Abu Bakar dengan rasa kagum. Abu Bakar sering datang ke rumahnya untuk membantu memerah susu tanpa mengharap balasan. Kalau saja Abu Bakar tidak datang membantu, pasti ia kesusahan.

“Nek, semua wadah sudah terisi...,” kata Abu Bakar setelah menyelesaikan wadah terakhirnya.

“Terima kasih banyak Tuan, atas bantuannya hari ini,” ucap perempuan tua itu.

“Baiklah nek, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.

“Wa’alaikummussalam,” jawab Perempuan Tua itu lagi.

Abu Bakar meninggalkan perempuan tua itu dengan hati gembira. Kemudian, ia singgah di rumah seorang anak yatim.

“Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar. Seorang anak perempuan berlari kecil membukakan pintu.

“Wa’alaikummussalam,” jawabnya. Bukan main senangnya anak itu ketika melihat Abu Bakar datang.

“Tuan datang ! Mari, silakan masuk,” sambutnya penuh hormat.

“Nak, apa ibumu ada di rumah ?” tanya Abu Bakar. Anak itu menggeleng pelan, “Ibu sedang mencari kayu bakar,” kata anak itu.

“Mari, kumasakkan sesuatu untukmu,” sahut Abu Bakar.

Abu Bakar memasak gandum untuk makanan anak yatim itu. Sungguh gembira anak perempuan itu menunggu makanan yang dimasak Abu Bakar. Tidak lama kemudian, makanan itu pun matang. Abu Bakar menyuguhkannya pada anak yatim itu.

“Sekarang, makanlah Nak. Bila ibumu datang, ia tidak perlu memasak lagi,” kata Abu Bakar. Anak itu pun makan dengan lahapnya. Abu Bakar memandangnya sambil tersenyum.

“Baiklah, aku permisi. Insya Allah, besok aku datang lagi memasak gandum untukmu,” kata Abu Bakar seraya mengusap kepala anak yatim itu dengan lembut.

“Terima kasih, Tuan,” ucapnya.

“Berhati-hatilah Nak,, Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.

“Wa’alaikummussalam,” jawab anak itu.

Abu Bakar berjalan menuju rumah-rumah lainnya untuk membantu memerah susu atau memasakkan gandum sampai sore hari. Abu Bakar suka sekali dengan pekerjaannya itu. Setiap hari dilakukannya terus menerus.

Begitulah Abu Bakar...walaupun ia seorang saudagar yang kaya raya, orang-orang sangat segan dan menghormatinya. Harta kekayaannya banyak sekali yang dipakai untuk perjuangan Agama Islam. Ia juga suka membeli budak-budak yang disiksa karena ketahuan memeluk Islam. Kemudian dimerdekakannya.

Ketika ia terpilih menjadi Khalifah, pekerjaan itu pun masih dilakukannya. Karena kesibukannya banyak menyita waktu, Abu Bakar tidak bisa lagi mengunjungi rumah-rumah Janda tua dan anak yatim.

Suatu siang, seorang gadis kecil membawa wadah di tangannya. Ia akan memerah susu kambing. “Diamlah, aku mau memerah susu,” katanya ketika kambingnya tidak mau diam. Tangannya yang mungil tidak cukup kuat menjinakkan kambing itu.

“Aduh..., kenapa tidak menurut ?” sahut anak yatim itu. Kambingnya malah menghentak-hentakkan kakinya.

“Bu, kemana ya, orang itu ?” tanyanya.

“Orang yang mana ?” ibunya balik bertanya.

“Orang yang suka membantu memerah susu tidak datang lagi, ya ?” sahut anak itu.

“Sudahlah nak, kau harus terbiasa mengerjakannya sendiri,” kata ibunya.

Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum,” terucap salam dari luar.

“Wa’alaikum salam” jawab anak itu.

“Oh ! Tuan datang lagi !” serunya ketika melihat laki-laki yang suka membantunya memerah susu sedang berdiri di depan pintu. Abu Bakar tersenyum. Betapa gembira anak itu, Si Pemerah susu datang lagi. Sudah berapa hari ia tidak datang kerumahnya.

“Nak, mari kuperahkan susu kambingmu,” kata Abu Bakar seperti biasanya. Anak itu bergegas memanggil ibunya.

“Bu ! Si Pemerah Susu itu datang lagi !” serunya girang. “Ia mau membantu kita,” katanya lagi.

Mendengar suara anaknya, ibu itu segera keluar menemui Abu Bakar. “Ya Allah ! Anakku, kau tidak patut berkata seperti itu padanya. Tahukah kamu siapa tamu ini ?” kata ibunya terperanjat.

“Dia Si Pemerah Susu yang suka membantu kita,” jawab anak itu polos.

“Tidak, anakku... Beliau adalah orang yang mulia. Beliaulah Khalifah Abu Bakar,” kata ibunya. “Ya Amirul mukminin, maafkanlah anakku, ia tidak tahu siapa Tuan,” dengan wajah pucat ibunya mohon maaf. Gadis cilik itu tampak ketakutan sekali.

“Tidak apa-apa. Biarkan saja...,” kata Abu Bakar sambil tersenyum.

“Mari kuperahkan,” kata Abu Bakar lagi.
Khalifah Abu Bakar lalu memerahkan susu kambing di rumah anak yatim itu. Kemudian datang ke rumah – rumah lainnya untuk memasakkan gandum.


Malu Ketahuan Anjing



Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin 'Ali berangkat ke kebun yang dijaga oleh seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya. 

Ketika tiba di kebun itu, Husain melihat budaknya sedang duduk - duduk beristirahat di bawah sebatang pohon sambil makan roti. Di samping itu, la juga melihat seekor anjing sedang duduk di hadapan Shafi sedang menikmati makanannya juga. Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi dua. Yang separuh dimakan sendiri sedang separuhnya diberikan kepada anjing. 

Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing - masing, Shafi berdo'a sambil mengangkat kedua tangannya, ”Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Ya Allah, berikanlah maaf dan ampunan-Mu kepadaku dan kepada tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat dan belas kasih-Mu ya Rabbal 'alamin.

Husain menyaksikan semua itu. Mendengar kata - kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat menahan dirinya. la memanggil budaknya “Ya Shafi...” Shafi kaget mendengar panggilan tuannya.

Sambil meloncat dengan gugup ia menjawab, ”Aduh tuanku ! Maafkan aku. Sungguh, aku benar - benar tidak melihatmu”. Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan tuannya. 

Tetapi sambil mendekati Shafi, Husain berkata, ”Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf kepadamu. Sebab aku memasuki kebunmu tanpa izin lebih dahulu".

“Kenapa tuan mengatakan hal demikian,” kata Shofi dengan rikuh. 

“Sudahlah jangan kita persoalkan lagi masalah ini. Hanya aku ingin tahu mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu ?” tanya al Husain penuh penasaran. 

Dengan malu, Shafi menjawab “Maklumlah tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan dan dia turut menjaga kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan ini. Karena itu, menurut pendapatku, rezeki dari tuan, sudah selayaknya kubagi juga dengan anjing ini”. 

Mendengar penjelasan Shafi, Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan suara parau, Husain berkata, ”Wahai Shafi, saat ini juga engkau telah aku bebaskan dari perbudakan. Terimalah dua ribu dinar ini sebagai pemberian dariku dengan penuh keikhlasan". 

Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua ribu dinar tersebut. la seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Namun Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil menyerahkan uang tersebut. 


Gajiku Sebagai Khalifah Masih Terlalu Besar


Saat itu, Abu Bakar Ash Shidiq menjabat sebagai Khalifah. Waktu itu beliau sedang pergi ke pasar untuk berdagang, di tengah jalan Beliau bertemu dengan Umar Bin Khattab, Umar pun bertanya, "Wahai Abu Bakar, engkau sebagai Khalifah, tapi masih juga menyibukkan diri ke pasar untuk berdagang, apakah tidak mengganggu tugasmu sebagai Khalifah yang berkewajiban untuk melayani rakyat (umat) ?"

Abu Bakar kemudian menjawab, "Wahai Umar, aku berdagang ke pasar mencari nafkah untuk keluargaku."

Lalu Umar mendatangi Abu 'Ubaidah sebagai pemegang amanah baitul mal (Bendahara negara) untuk mengusulkan agar Abu Bakar di beri gaji yang diambil dari Kas Negara, agar tidak harus berdagang ke pasar yang bisa mengganggu tugas Abu Bakar sebagai Kepala Negara.

Di kemudian hari istri Abu Bakar berkata pada Beliau "Aku ingin membuat & makan manisan, Jika Engkau mengizinkan, maka aku akan menyisihkan uang belanja dari Engkau untuk keperluan itu." Abu Bakarpun mengizinkan.

Setelah uang terkumpul maka Istri Abu Bakar berkata lagi, "Ini uang hasil aku menyisihkan sebagian uang belanja, Belikan aku keperluan untuk membuat manisan di Pasar."

Jawab Abu Bakar pada istrinya "Kalau begitu berarti gajiku sebagai Khalifah terlalu besar, sehingga engkau masih bisa menyisihkan sebagian uang untuk keinginanmu ini."

Abu Bakar akhirnya memohon agar gajinya sebagai khalifah dipotong sebesar uang yang telah bisa di sisihkan oleh istri Beliau.


Betapa Bahagianya Calon Suamiku Itu ....


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia merupakan salah seorang Ahlus Suffah yang tinggal di Masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya dengan agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAW menyapa.

"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.

"Maksudku bukan itu. Kenapa selama ini engkau membujang saja ? Apakah engkau tidak ingin menikah ?" tanya Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini adalah seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah ?"

"Asal engkau mau, itu urusan yang mudah !" kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada seorang wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia untuk diberikan lepadamu saudaraku."

Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi perkawinan Arab yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah ?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong ?"

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai Ayah, kenapa sedikit tegang dengan tamu ini ? Bukankah lebih baik disuruh masuk?"

"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai Ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya. Mereka semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah !" kata Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, bukan aku menghalanginya. Tetapi engkau tahu sendiri bahwa anakku tidak mau dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul ?"

Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah."

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah tidak berkata bahwa yang melamar ini adalah Rasulullah, kalau begitu segera saja wahai Ayah, kawinkan aku dengan pemuda ini. Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) diantara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung'". (Qs. An Nur : 51)"

Pada hari itu Zahid merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini ia merasakan bahagia yang tiada tara. Segera setelah itu, Zahid pamit pulang. Sampai di masjid ia langsung bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid ?" tanya Rasulullah.

"Alhamdulillah diterima ya Rasul," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan ?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, 'Ustman, dan 'Abdurrahman bin 'Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini ?"

Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengerti ?".

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "Wahh,, kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus."

Para sahabat menasehatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang ?"

Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin !"

Lalu Zahid menyitir sebuah ayat yang berbunyi, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Qs. At Taubah : 24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."

Lalu Rasulullah membacakan Ayat, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Qs 'Ali Imran : 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al Baqarah : 154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."


Refleksi Hikmah :

Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, "Untuk Allah di atas segalanya" Be A Good Mosleem or Die As Suhada'.


Senin, 14 November 2016

Apa Kata Tulang..........

Sudah berhari-hari orang Yahudi itu berjalan menuju Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar bin Khattab, Amirul Mukminin. Ia banyak mendengar kabar bahwa bahwa Amirul Mukminin seorang yang terkenal bersungguh-sungguh menegakkan keadilan. Jauh-jauh ia datang dari Mesir dengan sebuah harapan, Khalifah mau memperhatikan nasibnya yang tertindas.

Baru ketika matahari condong ke barat, ia tiba di Madinah. Walaupun badannya terasa letih, namun air mukanya tampak berseri. Ia gembira telah sampai di negeri Amirul Mukminin yang aman. Dengan tergopoh-gopoh, orang Yahudi itu memasuki halaman rumah Umar bin Khattab, lalu meminta izin pada prajurit yang sedang berjaga.

“Jangan-jangan, Khalifah tidak mau menerimaku” katanya dipenuhi rasa cemas. Ia menunggu di luar pintu. Prajurit masuk menemui Khalifah Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, ada orang Yahudi ingin menghadap Tuan” sahut Prajurit.

“Bawalah ke hadapanku” perintah Khalifah.

Orang Yahudi pun masuk disertai pengawal. Ada ketenangan di hati orang Yahudi ketika melihat Khalifah yang begitu lembut dan perhatian. Bertambah terperanjat orang Yahudi itu, ternyata Amirul Mukminin menjamunya dengan aneka makanan dan minuman.

“Saat ini kau adalah tamuku, silahkan nikmati jamuannya” sambut Khalifah. 'Rupanya benar apa yang kudengar tentang Khalifah', kata orang Yahudi dalam hati.

Setelah dijamu layaknya tamu dari jauh, Khalifah meminta kepada orang Yahudi untuk menyampaikan maksud kedatangannya. “Ya Amirul Mukminin, saya ini orang miskin” kata orang Yahudi memulai pembicaraan. Amirul Mukminin mendengarkannya dengan penuh perhatian. “Di Mesir, kami punya sebidang tanah” lanjut orang Yahudi.

“Ya, lalu, ada apa ?” tanya Amirul Mukminin.

“Tanah itu satu-satunya milik saya yang sudah lama saya tinggali bersama anak dan istri saya. Tapi Gubernur mau membangun Masjid yang besar di daerah itu. Gubernur akan menggusur tanah dan rumah saya itu” tutur orang Yahudi sedih, matanya berkaca-kaca. “Kami yang sudah miskin ini mau pindah kemana ? Jika semua milik kami digusur oleh Gubernur ? Tolonglah saya yang lemah ini, saya minta keadilan dari Tuan” Orang Yahudi memohon dengan memelas.

“Oh, begitu ya ? Tanah dan rumahmu mau digusur oleh Gubernurku ?” kata Amirul Mukminin mengangguk-angguk.

Khalifah Umar tampak merenung. Ia sedang berpikir keras memecahkan masalah yang dihadapi orang Yahudi itu.

“Kau tidak bermaksud menjual rumah dan tanahmu, hai Yahudi ?” tanya Khalifah.

“Tidak !” orang Yahudi tersebut menggelengkan kepalanya.

“Sebab cuma itulah harta kami. Saya tidak rela melepasnya kepada siapapun” Orang Yahudi tetap pada pendiriannya.

“Baiklah, aku akan membantumu” kata Amirul Mukminin. Hati orang Yahudi itu merasa lega karena Amirul Mukminin mau membantu kesusahannya.

“Hai Yahudi” kata Khalifah kemudian. “Tolong ambilkan tulang di bak sampah itu !” perintahnya.

“Maaf, Tuan menyuruh saya mengambil tulang itu ?” tanya orang Yahudi ragu. Ia tidak mengerti untuk apa tulang yang sudah dibuang harus diambil lagi. Namun, ia menuruti juga perintah Khalifah.

“Ini tulangnya Tuan“ orang Yahudi menyerahkan tulang unta tersebut kepada Khalifah.

Lalu, Khalifah Umar membuat garis lurus dan gambar pedang pada tulang itu.

“Serahkan tulang ini pada Gubernur Mesir !” kata Amirul Mukminin lagi.

Orang Yahudi menatap tulang yang ada. Garis lurus dan gambar pedangnya itu. Ia merasa tidak puas.

Kedatangannya menghadap Khalifah untuk mendapat keadilan, tetapi Khalifah hanya memberinya tulang untuk diserahkan kepada Gubernur.

“Ya Amirul Mukminin, jauh-jauh saya datang minta tuan membereskan masalah saya, tapi tuan malah memberi tulang ini kepada Gubernur ?” sahut orang yahudi.

“Serahkan saja tulang itu !” jawab Khalifah pendek. Orang yahudi tidak membantah lagi. Iapun bertolak ke mesir dengan dipenuhi beribu pertanyaan dikepalanya.

“Aneh, Khalifah Umar menyuruhku untuk memberikan tulang ini pada Gubernur ?” gumamnya sepanjang perjalanan ke negerinya.

Setibanya di mesir, orang yahudi bergegas menuju kediaman Gubernur. “Wahai Tuan Gubernur, saya orang yahudi yang tanahnya akan kau gusur itu“ kata orang Yahudi tersebut.

“Oh kau rupanya, ada apa lagi ?” kata sang Gubernur.

“Saya baru saja menghadap Amirul Mukminin” kata orang yahudi.

“Lantas ada apa ?”

“Saya disuruh memberikan tulang ini” orang Yahudi itupun segera menyerahkan tulang unta ke tangan Gubernur.

Diperiksanya tulang itu baik-baik. Wajah Gubernur berubah pucat. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur di dahinya ketika melihat gambar pada tulang itu. Sebuah garis lurus dan gambar pedang yang dibuat Khalifah Umar sudah membuat hati Gubernur ketakutan bukan main.

“Hai pengawal !” tiba-tiba ia berteriak keras.

“Serahkan tanah orang yahudi ini sekarang juga ! Batalkan rencana menggusur rumah dan tanahnya ! Kita cari tempat lain untuk membangun masjid” kata Gubernur.

Orang Yahudi itupun menjadi heran dibuatnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan perubahan keputusan Gubernur yang akan mengembalikan tanah miliknya. Hanya dengan melihat tulang yang bergambar pedang dan garis lurus dari Khalifah tadi, Gubernur tampak sangat ketakutan.

“Hai Yahudi ! Sekarang juga kukembalikan tanah dan semua milikmu. Tinggallah engkau dan keluargamu disana sesuka hati” sahut Gubernur terbata-bata.

Pesan dalam tulang itu dirasakan Gubernur seakan-akan Khalifah Umar berada dihadapannya dengan wajah yang amat marah. Ya ! Gubernur merasa seolah-olah dicambuk dan ditebas lehernya oleh Amirul Mukminin.

“Tuan Gubernur ada apa sebenarnya ? Apa yang terjadi ? Kenapa tuan tampak ketakutan melihat tulang yang ada garis lurus dan gambar pedang itu ? Padahal Amirul Mukminin tidak mengatakan apa-apa ?” tanya orang Yahudi masih tak mengerti.

“Hai Yahudi, Tahukah engkau ? Sesungguhnya Amirul Mukminin sudah memberi peringatan keras padaku lewat tulang ini” kata Gubernur.

Orang Yahudi tersebut bertambah heran saja. "Sesungguhnya tulang ini membawa sebuah pesan peringatan. Garis lurus, artinya Khalifah Umar memintaku agar aku sungguh-sungguh menegakkan keadilan terhadap siapapun. Dan gambar Pedang, artinya kalau aku tidak berlaku adil, maka Khalifah akan bertindak. Aku harus menjadi penguasa yang adil sebelum aku yang menjadi tulang belulang” jawab Gubernur menceritakan isi pesan yang terkandung dalam tulang unta itu.

Kini orang Yahudi pun mengerti semuanya. Betapa ia sangat kagum kepada Amirul Mukminin yang sungguh-sungguh memperhatikan nasib orang tertindas seperti dirinya meskipun ia bukan dari kaum muslimin.

“Tuan Gubernur, saya sangat kagum pada Amirul Mukminin dan keadilan yang diberikan Pemerintah Islam. Karenanya, saya ingin menjadi orang Muslim. Saat ini saya rela melepaskan tanah itu karena Allah semata”

Tanpa ragu sedikitpun orang Yahudi itu langsung bersyahadat dan merelakan tanahnya untuk didirikan di atasnya sebuah masjid.


Minggu, 13 November 2016

Khalifah Umar dan Mahar

“Wahai Amirul mukminin, manakah yang wajib kita ikuti, Kitab Allah ataukah ucapanmu ?” seorang Wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah 'Umar yang baru selesai berkhutbah.

Wanita itu menanggapi pernyataan 'Umar yang melarang memahalkan mahar. 'Umar membatasi, bawah mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara dengan 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah SAW pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal”

Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?” (QS An Nisa’ : 20)

Khalifah 'Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya, “Wanita ini benar, dan 'Umar salah” ucapnya di depan banyak orang.


Refleksi Hikmah :

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini. Setidaknya ada tiga,,
Pertama, betapa Islam mengakomodasi peran perempuan. Mereka punya kesetaraan untuk mengungkapkan pendapat.
Kedua, sebagai khalifah, 'Umar telah mencontohkan sikap legawa sebagai pemimpin dalam menerima kritikan dari rakyatnya. 'Umar jujur mengakui kebenaran ucapan perempuan itu meski di depan orang banyak, tanpa merasa gengsi.
Ketiga, sebagai rakyat, perempuan itu merasa punya tanggung jawab meluruskan ketika pemimpinnya bersikap keliru. Dan inilah dakwah yang paling berat, menegur penguasa yang salah.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zhalim” (At Tirmidzi dan Al Hakim)

----------- www.alkisaah.blogspot.com ----------

kebaikan Baik Itu Masih Ada di antara Kaum Muslimin


cerita inspiratif islami, kisah inspiratif islami, Sifat Baik Itu Masih Ada di antara Kaum Muslimin, kisah umar bin khattab
Suatu hari, 'Umar ibn Al Khattab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Serbannya dilepas, sehingga menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imaratnya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya, para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan.

Di dalam halaqah tersebut, ada seorang anak muda yang tampak menonjol. Abdullah ibn ‘Abbas namanya. Berulangkali Khalifah 'Umar memintanya bicara. Jika terdapat perbedaan pendapat, 'Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu 'Abbas. Ada juga Salman Al Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Tiba-tiba pembicaraan mereka terjeda, dengan kedatangan dua orang pemuda yang berwajah mirip dengan mengapit seorang Pemuda lain yang mereka cekal lengannya.

“Wahai Amirul Mukminin” ujar salah seorang dari mereka. ”Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh Ayah kami ini !“

Khalifah 'Umar bangkit dan berkata, “Takutlah kalian kepada Allah !” ujar 'Umar. “Perkara apakah ini ?”

Kedua pemuda itu menegaskan bahwa Pemuda yang mereka bawa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku.

'Umar bertanya kepada sang tertuduh, “Benarkah apa yang mereka dakwakan kepadamu ini ?”

“Benar wahai Amirul Mukminin !” jawab sang Pemuda tersebut.

“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal !” 'Umar menyelidik dengan teliti. "Ceritakanlah kejadiannya !”

“Aku datang dari negeri yang jauh” kata Pemuda itu. “Begitu sampai di kota ini, aku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Ku tingggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai makan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka”

“Saat aku kembali” lanjutnya sembari menghela nafas, ”Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada Allah karenanya” mendengar cerita tersebut Khalifah 'Umar termenung.

“Wahai Amirul Mukminin” kata salah satu dari kedua adik beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami minta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar jiwa”

'Umar melihat ke arah pemuda tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. 'Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.

“Bersediakah kalian” ucap 'Umar ke arah dua pemuda penuntut qishash, ”Menerima pembayaran diyat dariku atas pemuda ini dan memaafkannya ?”

Kemudian dua Pemuda itu saling pandang, ”Demi Allah, wahai Amirul Mukminin” jawab mereka. “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan takkan terganti dengan diyat sebesar apapun. Hati kami baru tenteram jika had ditegakkan !”

'Umar terhenyak, “Bagaimana menurutmu ?” tanyanya kepada pemuda sang terdakwa.

“Aku ridha hukum Allah ditegakkan ke atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si Pemuda dengan yakin.

“Namun ada beberapa hal yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kepada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka, juga memohon ridha dan keampunan ayah dan ibuku”

'Umar terenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. tetapi Pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan.

“Jadi bagaimana ?” tanya 'Umar.

“Jika engkau mengizinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu, tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai Putra Al Khattab."

"Adakah orang yang bisa menjaminmu ?"

"Aku tidak memiliki seorang pun yang ku kenal di kota ini, hingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku. Aku tak memilki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

"Tidak ! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak mengizinkanmu pergi"

"Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku"

"Aku percaya. Tetapi tetap harus ada seorang manusia yang menjaminmu !"

“Aku tak punya !”

“Wahai Amirul Mukminin !” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya !”

Inilah dia Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri.

"Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini ?”

"Benar, aku bersedia !”

"Kalian berdua adik beradik yang mengajukan gugatan," panggil 'Umar, "Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini ?? Adapun Salman demi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat."

Kedua Pemuda itu saling pandang, “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

_____ *** _____

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. 'Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir, sementara Salman duduk khusyu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya sedang berada di ujung tanduk. Andai lelaki Pembunuh itu tak datang memenuhi janjinya, maka dirinyalah selaku Penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus melaju. Dan, Pemuda itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para Sahabat berkumpul mendatangi 'Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal (pengganti). Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.

Satu demi satu dimulai dengan Abu Darda’ dan beberapa sahabat lainnya, mereka mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan kepadanya. Tetapi Salman menolak. 'Umar pun juga menggeleng. Matahari terus lingsir ke barat. Dan Kekhawatiran 'Umar pun semakin memuncak. Para sahabat makin kalut dan sedih.

Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok-seok. Dialah Pemuda itu, Sang Terhukum.

"Maafkan aku," ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan untuk kaumku itu ternyata berbelit-belit dan rumit. Sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa ku tinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai ke mari hingga nyaris terlambat."

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini, merasakan satu sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang Pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

"Pemuda yang jujur," ujar 'Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu masih ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash ?"

"Sungguh, jangan sampai ada orang yang mengatakan,” kata Pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang menepati janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin."

"Dan kau Salman ?" kata 'Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali ? Bagaimana kau bisa mempercayainya ?”

“Sungguh, jangan sampai ada orang yang bicara,” ujar Salman dengan wajah yang teguh, "Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi rasa saling percaya di antara kaum Muslimin."

“Allahu Akbar !” kata 'Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati umat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai Pemuda, had untukmu harus kami tegakkan !"

Pemuda itu mengangguk pasrah.

“Kami memutuskan…” kata salah seorang dari kakak-beradik penggugat tiba-tiba menyeruak.

“Untuk memaafkannya,” mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan menepati janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.“

“Alhamdulillah ! Alhamdulillah !” ujar 'Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur.
Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma' Allah, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran ?” tanya 'Umar pada kedua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.“


Indahnya Pertemuan di Bawah Pohon

Seorang wanita miskin berdiri di dekat sebuah pohon sambil memperhatikan muka orang - orang yang lewat di hadapannya. Ia bermaksud meminta tolong kepada salah satu mereka. Ia pun mendekati seorang laki - laki yang sedang tidur di bawah pohon lalu berkata kepadanya, "Wahai Tuan, saya adalah seorang wanita miskin yang memiliki banyak anak. Dahulu Amirul Mukminin, Umar ibn Khattab pernah mengirim kepada kami seorang utusan yang bernama Muhammad ibn Muslimah. Dia datang membawa harta zakat, tetapi ia tidak memberi kami sedikit pun. Saya berharap seandainya Tuan bisa menolong kami dan menceritakan keadaan kami, mudah - mudahan ia mau memberi kami."

Namun, betapa terkejutnya wanita itu demi melihat laki - laki tadi tiba - tiba bangun dan berteriak kepada pembantunya, "Panggil Muhammad ibn Muslimah ! Katakanlah kepadanya supaya ia segera menghadapku sekarang juga !"

Dengan putus asa wanita itu berkata, "Apakah ia akan datang menghadap Tuan, bukankah sebaiknya Tuan pergi bersamaku untuk menemui lelaki itu ?"

Laki - laki tadi menjawab, "Dengan izin Allah ia akan datang dan memenuhi segala kebutuhanmu"

Dalam keadaan sedih wanita itu pun duduk sambil termenung menunggu. Tak lama kemudian, datanglah Muhammad ibn Muslimah yang bersegera menghadap kepada laki - laki yang tengah bersantai di bawah pohon tadi, "Assalamu'alaika wahai Amirul Mukminin."

Akhirnya wanita itu merasa sangat malu setelah menyadari bahwa orang yang diajaknya berbicara tadi tidak lain adalah Amirul Mukminin, Umar ibn Khattab. Sungguh ia tidak akan pernah menduga dapat bertatap muka langsung dengan pemimpinnya."

Umat ibn Khattab lantas berkata kepada Muhammad ibn Muslimah, "Apa jawabanmu nanti pada hari kiamat jika Allah bertanya kepadamu tentang wanita miskin ini ?"

Muhammad ibn Muslimah pun tak kuasa menahan air matanya. Sambil tetap beristirahat, Amirul Mukminin meneruskan pembicaraannya dengan menjelaskan kepada Muhammad ibn Muslimah hak - hak fakir miskin dan memerintahkannya untuk memberi sedekah yang banyak kepada wanita tersebut. Setelah itu Amirul Mukminin memerintahkan kepada wanita itu untuk mengambil tepung dan minyak zaitun sambil berkata kepadanya, "Ambillah ini untuk sementara dan pergilah menuju Khaibar, karena kami pun insya Allah akan menuju kesana !"

Ketika wanita itu sampai di Khaibar dan bertemu dengan rombongan Amirul Mukminin, ia mendapatkan tambahan pemberian sejumlah kebutuhan pokok berupa tepung dan minyak zaitun.


Kuli Angkut


Cerita Inspiratif Islami, Kisah Inspiratif Islami, Gubernur Kuli Angkut

Salman Al Farisi pernah menjabat gubernur di beberapa kota. Ia adalah orang yang sangat rendah hati, hingga orang lain menyangkanya seperti kebanyakan orang lainnya, makan dan minum dari hasil keringatnya sendiri.

Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan kaki, ia bertemu dengan seorang Pedagang yang datang dari negeri Syam sambil membawa barang bawaannya berupa buah tin dan buah kurma. Pedagang itu mencari - cari tukang angkut (kuli) yang dapat membantunya membawakan barang bawaannya. Tatkala dilihatnya seorang lelaki yang tampaknya olehnya seperti halnya rakyat kebanyakan, terlintas dalam benaknya untuk menyuruh orang itu membawakan barang - barang dagangannya.

Pedagang itu pun melambai - lambaikan tangannya sembari menunjuk orang yang dilihatnya agar menghampirinya. Pedagang itu pun berkata, "Tolong bawakan barang - barangku ini !"

Orang yang diperintah pun segera membawanya dan keduanya berjalan beriringan hingga melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Sang Pedagang lantas mengucapkan salam kepada mereka. Mereka lalu menjawab, "Wa'alaikummusalam wahai Amirul Mukminin"

"Wahai Gubernur ? Gubernur mana yang kalian maksud ?" kata orang Syam itu dalam hatinya.

Ia semakin bertambah keheranan tatkala melihat sebagian dari mereka cepat - cepat menjuju ke arah tukang angkutnya sembari memohon, "Biar aku saja yang membawanya wahai Amir"

Akhirnya Pedagang dari Syam itu mengetahui bahwa orang yang membawa barang - barangnya itu tidak lain adalah gubernur wilayah tersebut, yaitu Salman Al Farisi. Seketika itu juga dia langsung meminta maaf kepada beliau dan menyatakan penyesalannya. Segera ia mendekati Salman untuk membantu menurunkan barang bawaannya, tetapi Salman menolak sambil berkata, "Tidak usah, aku akan membawanya hingga sampai di rumahmu" 


Kerinduan Bersujud di Mihrab Taat


Cerita Inspiratif Islami, Kisah Inspiratif Islami, Cinta Bersujud di Mihrab Taat

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian ! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya !”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah ?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini ?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah ?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib ?”,  nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib ?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta ? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta ?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah ? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini
Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)
Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.
Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang ?”

“Tidak Ya Rasulallah !”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang ?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah !” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib !”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu ?

sepenuh cinta,




Terakhir Bilal ibn Rabbah Adzan


cerita inspiratif islami, Adzan Terakhir Bilal ibn Rabbah, kisah inspiratif islami

Semenjak Rasulullah wafat, Sahabat Bilal ibn Rabbah menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.

Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia bersama rombongan pasukan Fath Islamy berangkat menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Sudah lama Bilal tak mengunjungi Madinah, hingga sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa ? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku ? Mengapa sampai seperti ini ?"

Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, kepada Sang Kekasih.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua itupun memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami ? Kami ingin mengenang kakek kami."

Ketika itu, Umar bin Khattab yang saat itu telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan tersebut, dan beliaupun juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun - tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata 'Asyhadu an laa ilaha illallah', seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan 'Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah', Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang telah menerbitkan rasa kerinduan penduduk Madinah kepada Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Dan pada saat itu, Kota Madinah banjir oleh air mata kerinduan kepada Rasulullah. Allaahumma Sholli 'Alaa Muhammad.


Sabtu, 12 November 2016

Sigapnya Seorang Pemimpin


Cerita Inspiratif Islami, Kisah Inspiratif Islami, Sigapnya Sang Pemimpin

Suatu malam menjelang kedatangan pasukan Ahzab ke Madinah, demikian Sa'ad ibn Abi Waqqash berkisah, keadaan demikian mencekam. Sungguh tepat apa yang digambarkan Allah; tak tetap lagi penglihatan kami dan hati serasa naik menyesak ke kerongkongan (Surat Al Ahzab Ayat 10).

Malam itu aku terbangun dan ingat akan Rasulullah. Atas keinginan sendiri, aku beranjak, lalu berjaga di dekat kediaman beliau. Saat aku disana, Rasulullah bersabda dengan suara agak dikeraskan, "Adakah lelaki shalih yang malam ini sudi menjaga kami ?"

Maka aku segera menjawab, "Labbaika yaa Rasuulullah ! Di sini Sa'ad ibn Abi Waqqash berjaga untukmu !" Sesungguhnya yang paling kusukai dari sabda beliau adalah kata-kata 'lelaki shalih', semoga itu menjadi do'a bagi diriku.

Beliau keluar menemuiku dengan senyum tulusnya. Setelah memberikan arahan dan memesankan nasihat, beliau masuk kembali. Di larut itu, tiba-tiba kudengar bunyi keras menderu-deru dari ujung kota. Bergegas kunaiki kuda dan kutuju arah asal suara. Aku memacu kudaku. Sampai di satu tempat gelap, dari arah berlawanan muncul bayangan penunggang kuda. Kusiapkan busur dan panahku. Ketika mendekat, aku terkesiap. Ternyata dia Rasulullah ! Aku bertanya, "Dari mana engkau, ya Nabi ? Sungguh aku khawatir atas deru tadi ! Aku khawatir, pasukan musuh dalam jumlah besar datang untuk menyerang Madinah. Mohon pulanglah, dan izinkan aku memeriksanya"

Rasulullah tersenyum padaku dan bersabda, "Tenangkan dirimu, hai Sa'ad. Aku telah memeriksanya. Dan itu hanya suara angin gurun"

Aku terperangah, takjub dan malu. Aku, si peronda, telah didahului oleh sang Nabi yang kujaga dalam memeriksa kemungkinan bahaya.


Kisah Sa'ad ini menjadi pembelajaran indah. Bahwa sang Nabi meminta dijaga bukan karena manja atau suka dilayani pengikutnya. Kesiagaan dan kegesitan beliau bahkan lebih tinggi daripada Sa'ad yang meronda. Permintaan dijaga itu ternyata pendidikan maknanya. Sungguh menakjubkan; pemimpin ini adalah pembawa kedamaian, tak cuma dalam kata, tetapi dengan tindakan yang didasari ketulusan. Dan, kasih sayang agung yang membuat seluruh hidupnya terabdi tuk melayani, tak menghalangi beliau dalam mendidik sahabatnya.

Demikian sekelumit kisah, moga mengilhamkan kita tuk menjadi pembawa damai di hati orang-orang yang kita pimpin. Amin.

Sumber : Buku 'Menyimak Kicau Merajut Makna' (Salim A. Fillah)