Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2016

18 Agustus 1945, Ternyata Sehari Setelah Proklamasi, Umat Islam Dikhianati

Jika ingin negeri ini selamat, mari kembalikan Indonesia pada dasar Islam! Jangan lagi mau dikhianati…


 Kemerdekaan-Sehari paska proklmasi, umat Islam Dikhianati-jpeg.image
Umat Islam di negeri ini tak akan pernah lupa, betapa politik kaum sekular begitu khianat dengan menelikung kesepakatan luhur (gentlement agreement), Piagam Jakarta. Sehari paska kemerdekaan, lobi-lobi politik kelompok sekular dan Kristen berhasil menghapuskan sebuah tonggak sejarah bagi penegakan syariat Islam di negeri ini.

Ya, hanya sehari pasca proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri, tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa ini pada 22 Juni 1945, yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dihapuskan oleh tipu licik kelompok yang tidak menginginkan syariat Islam tegak di negeri ini.

Tgk Daud Beureueh
Inilah tragedi besar dalam sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, yang pada masa revolusi fisik berjuang dan bercita-cita, jika nanti negeri ini merdeka, mereka menginginkan kemerdekaan ini dilandaskan pada sistem Islam. Tak heran jika, Haji Agus Salim, tokoh nasional bangsa ini, dengan lantang dan tegas mengatakan, cita-cita kemerdekaan bangsa ini adalah kemerdekaan dalam bingkai dan semangat keislaman.

Apakah ini sebuah cita-cita yang berlebihan? Silakan bentangkan fakta-fakta sejarah dengan kejujuran, siapa sesungguhnya yang lebih banyak berjuang dan menggerakkan perlawanan dalam mengusir penjajah?  Siapa yang merekatkan tali persatuan dalam menggelorakan semangat perjuangan mengusir bangsa asing yang datang merampas kekayaan negeri ini?
Inilah bentangan fakta-fakta sejarah yang bisa menjawab pertanyaan tersebut…

Perlawanan umat Islam misalnya bisa dilihat dalam perjuangan yang dilakukan KH Zainal Musthafa di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kiai Subki di Wonosobo, Imam Bonjol di Sumetera Barat (1821-1837), Pangeran Diponegoro (1825-1830), Perang Sabil di Aceh (1837-1904), serta perlawanan para sultan dari kerajaan-kerajaan Islam yang mengerahkan pasukannya untuk mengusir penjajah. Semua perang yang terjadi bersukma dari seruan jihad, dengan motor penggerak para pejuang Islam.

Perang Sabil yang berlangsung di Aceh, dan digerakkan oleh Teungku Cik Di Tiro, Tengku Umar dan Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1904 misalnya, adalah jihad melawan apa yang disebut oleh mereka sebagai kape-kape(kafir-kafir) Belanda. Perlawanan sengit yang dalam catatan sejarah terekam dalam hikayat perang Sabil itu mampu menjadikan Aceh sebagai daerah yang sulit ditaklukkan oleh penjajah.

Dr Mohammad Natsir
Saat kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah bertekuk lutut pada bangsa kolonial, yaitu Inggris, Portugis, dan Belanda, daerah berjuluk Serambi Mekkah itu justru sulit ditaklukkan hingga akhir abad ke-18. Ruhul jihad rakyat Aceh yang tangguh menggema hingga pelosok Nusantara.

Pada masa selanjutnya, para ulama Aceh, di antaranya Tengku Muhammad Daud Beureueh, terus menggelorakan semangat jihad melawan penjajah. Daud Beureueh menyebut perlawanannya sebagai “perang Aceh dalam bentuk baru”, dengan terlebih dahulu menyiapkan kader-kader pejuang yang sebelumnya digambleng dalam pusat-pusat pendidikan Islam (dayah).

Dari dayah inilah lahir pejuang-pejuang tangguh yang berperan aktif mengusir penjajah, baik menjelang pendudukan militer Jepang, maupun pada masa revolusi tahun 1945.

Tengku Daud Beureueh yang juga tokoh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), mengorganisir gerakan bawah tanah untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda di seluruh pelosok Tanah Rencong. Maka, pada tahun 1942, pecah perlawanan di beberapa wilayah Aceh yang dimotori para ulama, hingga seluruh tentara Belanda hengkang dari tanah Aceh.

Selain itu, semangat untuk mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta,  juga terus diserukan oleh para ulama di Serambi Makkah.

Buya HAMKA saat masih muda
 Pada  15 Oktober 1945, seruan untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang berusaha merebut Pangkalan Brandan di Sumatera Utara, bergema di Aceh. Para ulama yang terdiri dari Tengku Haji Hassan Krueng Kalee, Tengku Haji Muhammad Daud Beureueh, Tengku Haji Jakfar Shiddiq Lamjabat, dan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, mengeluarkan seruan jihad kepada rakyat Aceh untuk berjuang mengangkat senjata melawan penjajah.

Berikut isi seruan para ulama tersebut:

“…Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan Soekarno. Belanda adalah satu kerajaan kecil serta miskin. Satu  negeri yang kecilnya, lebih kecil dari negeri Aceh yang hancur lebur. Mereka telah bertindak melakukan pengkhianatan kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka untuk dijajah kembali. Kalau maksud jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas segala harta benda negara dan harta rakyat, dan segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah. Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia dan menjalankan usaha untuk menghapus Islam kita yang suci serta menindas dan menghambat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Menurut keyakinan kami, perang ini adalah perjuangan suci yang disebut ‘Perang Sabil’…”

KH Agus Salim
 Selain di Aceh, kontribusi dan pengorbanan umat Islam juga menjadi spirit kemerdekaan di beberapa daerah lain di tanah air. Dalam catatan sejarawan Muslim, Ahmad Mansyur Suryanegara, proklamasi Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945, dan bertepatan dengan 19 Ramadhan 1364 H, juga tak lepas dari dorongan para ulama kepada Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Mansyur, sebelum memproklamasikan kemerdekaan, Bung Karno menemui para ulama, di antaranya para ulama di Cianjur Selatan, KH Abdul Mukti dari Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama.

Tapi apa mau dikata, air susu dibalas air tuba. Piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi kaum Muslimin di negeri ini, dihapuskan sehari setelah proklamasi. Padahal, menurut keterangan Jenderal Abdul Haris Nasution, Piagam Jakarta lahir di antaranya berdasarkan dorongan dari ratusan ulama yang menginginkan umat Islam hidup diatur dengan syariat Islam.

Jenderal Besar AH Nasution
Karena itu, Jenderal Besar AH Nasution pernah menyatakan, “Dengan hikmah Piagam Jakarta itu pulalah selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur…”

Inilah pengkhianatan yang sungguh memilukan bagi umat Islam. Allahyarham Dr Mohammad Natsir menyatakan, tanggal 17 Agustus 1945 kita bertahmid, mengucap syukur karena negeri ini telah diberi kemerdekaan atas rahmat Allah SWT. Namun, sehari setelah itu, kata Natsir, umat Islam beristighfar, karena perjuangannya selama ini dikhianati.

Bahkan, dengan kalimat yang lebih tegas, Allahyarham Buya Hamka pernah menyatakan, “Mari kita berpahit-pahit, kaum Muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”

Jadi, mari kita kembalikan Indonesia pada dasar Islam, pada semangat dan perjuangan menegakkan Islam! (aw/salam-online.com)

*Sebagian besar sumber artikel ini berasal dari buku “Dilema Mayoritas” yang ditulis oleh Artawijaya

Jumat, 29 Juli 2016

Pedang Pusaka Milik Suami Pertama Cut Nyak Dhien Ditemukan di Goa Tujoh Laweueng

Pedang yang dipegang oleh Abati (Tgk.Muhammad Shufi Harun) ini adalah pedang yang dipakai oleh suami Cut Nya’ Dhien dahulu sebelum ia syahid sebagai Syuhada dibunuh penjajah Belanda.

Pedang ini termasuk salah satu pedang pusaka milik kerajaan Aceh. Tersebut kisah konon pedang ini merupakan bagian dari sembilan pedang-pedang kesultanan Aceh yang kemudian ketiadaan keterangan mengapa bisa berada pada Teuku Ibrahim hingga menguasainya.
Pedang yang memiliki nilai hystoris dan latar belakang yang panjang ini ternyata bukanlah pedang biasa tapi merupakan pedang yang sarat mengandung mitos dan keghaibannya, hal ini tentu sumbernya sendiri yang mengetahuinya.
Banyak orang tidak mengetahui seluk beluk dan keberadaan pedang ini karena memang hampir hilang ditelan bumi.
Riwayat yang bersumber dari Abati seorang pimpinan dayah Mudhiatul Fata Lampaseh Aceh, Banda Aceh, meriwayatkan bahwa menurut kisah dari turunan keluarga Teuku Ibrahim, tersebutlah kisah bahwa Teuku Ibrahim adalah seorang turunan Ahlulbait Nabi yang keluarganya berhijrah ke Aceh di masa kesultanan Aceh dahulu.
Berikut ini sekilas latar belakang sejarah tentang pedang ini hingga sampai kepada para pemegang sah-nya sekarang berada. 
 
Abati Lampaseh ketika berpose dengan pedang dimaksud.

Awal mula pedang ini berasal dari tanah negeri Hadratul Maut Yaman, disebabkan oleh konflik dan pertikaian besar pada masa itu yaitu di abad 17 atau 18 ke atas masa awal kebangkitan kekuasaan monarky yang kini disebut dengan Arab Saudi dan merupakan masa akhir kejatuhan Empayer Turky Osmani. Masa tersebut adalah masa di mana bangsa-bangsa Barat yang diwakili Inggris menjatuhkan peradaban lslam, dan kala itu juga Inggris dibantu oleh suatu suku di jazirah Arab.
Itulah sejarah konflik hitam terhadap umat lslam di tanah Arab dan tanah mulia tempat kelahiran junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw dan tempatnya 2 tanah suci (haramain) milik umat lslam berada, setelah direbut paksa dari pada kekuasaan kekhalifahan lslam Dynasti Turki Usmani yang kala itu masa kemundurannya yang dimanfaatkan oleh pihak Barat (Inggris) atau Yahudi yang berkonspirasi dengan kepala suku Baduwi di Arab (tuan Su’ud).
Masa itu pulalah di mana umat lslam dikejar-kejar dan dibunuh karena telah terjadinya pengkafiran muslimin oleh orang-orang yang menguasai negeri. Masa itu masa kaum barbar berjaya adalah masa paling kejam terhadap muslimin dan mukminin yang dilakukan oleh saudara seagamanya. Kaum muslimin didera dalam perbedaan pendapat dalam berislam namun naas bagi mereka, pemancungan atau pembunuhan di mana-mana hanya karena dianggap telah syirik dan kafir. Bahkan tidak tanggung-tanggung bukan saja umat tapi orang-orang yang dipercayakan sebagai ahli ilmu (ulama dan mufti) pun turut serta dibunuh beserta penghancuran segala makam keluarga dan sahabat nabi serta tempat-tempat yang dianggap sakral dalam agama ini.
Pengkafiran dan pembumi hangusan kaum muslimin ini terjadi luar biasa adanya, dan pelakunya merupakan bentuk dan rupa dari pada kaum Khawarij baru yang dulu pernah hidup di zaman Rasulullah. Mereka inilah yang kini disebut dengan Wahabi yang telah melakukan pembunuhan dan pengkafiran terhadap siapa saja yang dianggap berlawanan dengannya. Khawarij yang dahulu diciptakan oleh Yahudi sama halnya juga dengan Syi’ah, kedua-duanya bangkit untuk mengacaukan dan menghancurkan Dinul Haq agama yang Rahmatan Lil Alamin ini.
Singkat cerita oleh Syi’ah yang anti Sahabat Nabi dan oleh Khawarij anti Zurriat Nabi saling bertikai. Dan dari sinilah awal mula masa Wahabi sebagai reinkarnasinya Neo-Khawarij melakukan pembalasan besar-besaran kepada ahlulbait dan zurriat Nabi. Oleh tindakan brutal Wahabi-lah kemudian para Ahlulbait Nabi dikejar-kejar dan dilenyapkan dari muka bumi, maka banyak kita melihat mendapati para Ahlulbait Nabi ini di seluruh dunia ini yang bermaksud menyelamatkan diri dari kezaliman itu.
Di antara keluarga Nabi yang menetap di Yaman juga berusaha menyelamatkan nyawanya dari ancaman bahaya hingga tersebar ke berbagai negeri-negeri tetangga Arab, namun ada juga yang berhijrah Asia Tenggara dan ke seluruh dunia.

Di antara mereka terdapatlah keluarga besar dari Teuku Ibrahim (suami pertama Cut Nya’Dhien). Keluarganya yang dikejar-kejar oleh tentara-tentara Wahabi di Arab sana hingga berhasil lari ke negeri Aceh ini, dan salah satunya adalah keluarga besar dari Teuku Ibrahim suami dari Cut Nya’ Dhien yang berhijrah menyelamatkan nyawa ke Aceh, dan mereka berasal dari kampung Buni Yamin asal Yaman. Dan ketika itu Aceh sudah sedia mulai maju oleh peranan para sultan yang memimpin saat itu.
Sejarah keberadaan Ahlulbait Nabi yang dikenal sebagai bangsa mulya turunan Nabi masuk ke Aceh dahulu tidak diketahui persis oleh umum, disebabkan pula pada masa itu mata-mata Kolonial Barat melakukan misi pencarian target di mana saja mereka berada guna pembumihangusannya, itu juga bagian dari konspirasi Barat dengan Saudi. Kala itu Aceh memang telah diinvasi oleh Barat seperti Portugis, Belanda, Inggris dan lain-lain.
Sehingga wajar kita temui di Aceh dahulu, para ulama-ulama besar yang berpengaruh di Aceh ternyata merupakan bagian dari keluarga Nabi yang sedang dicari-cari itu.
Alhamdulillah memang keberadaan para keluarga Nabi yang dikenal dengan istilah para Hubaib atau Sayid dan Syarifah, di Aceh sangat nyaman kehidupannya itu berkat kemurahan hati para kesultanan Aceh yang berkuasa kala itu, sehingga banyak di antara mereka dapat mendakwahkan agama kepada umat lslam Aceh. 
Di antara para turunan Nabi tersebut merupakan para ulama-ulama Aceh yang sangat dikenal saat itu di antaranya seperti Abu Chiek Tgk. Dianjong, Abu Chiek Tanoh Abee, Abu Chiek Tanoh Mirah dan lain-lain yang banyak tersebar diberbagai penjuru tanah air.
Maka menurut riwayat inilah keberadaan pedang dan peran keluarga besar Teuku Ibrahim berada di Aceh, alkisah pedang tersebut telah diwasiatkan oleh para leluhurnya agar si pemakainya haruslah seorang kesatria yang siap berjihad bela agama. Maka wajar pula beliau yang beristrikan wanita pemberani yang siap menggantikan kedudukannya melawan Kafir Penjajah Belanda masa itu di kala beliau telah syahid.
Kisah akan keberadaan pedang ini tiada yang tahu bahkan sampai disebut-sebut telah hilang kecuali memang dari keluarga dan turunannya hingga di jaman ini. 
Kisah keberadaannya nyaris hilang ditelan bumi, namun berkat usaha keras dari para turunan keluarganya telah mencari dengan berbagai cara hingga berhasil kembali mendapati dan menguasainya.
Konon dahulu masa Suami Cut Nya’ Dhien masih hidup di era tahun 1800-an, disebutkan ada yang cuak (mata-mata) membisikkan kepada Belanda bahwa pedang pusaka ini ada di tangan Teuku Ibrahim. Belanda yang berhasrat ingin juga menguasai pedang ini menyiasati suami Cut Nya’ Dhien sehingga oleh Belanda mengirim orang-orang bayarannya menculik, membunuh dan membuangnya jasad suami Cut Nya’ Dhien (Teuku Ibrahim) beserta anaknya yang telah remaja, saat itu terjadi keanehan akan keberadaan pedang yang raib entah kemana hingga akhirnya ditemukan kembali.

Maka wajar saja bila Cut Nya’ Dhien pun marah karena selain suami yang dibunuh, anak dan suaminya telah diculik dan dibantai Belanda. Atas kejadian tersebut Cut Nya’ Dhien pun turut berduka atas hilang orang-orang yang dikasihnya itu, namun karena masih mengingat amanah suaminya dulu yang menyeru agar wajib melawan Belanda si kafir penjajah, maka bangkitlah Cut Nya’ Dhien diikuti dengan pengawal-pengawalnya dengan gagah berani berjuang bela agama dan bangsa. Hingga pada sebuah masa dilamar oleh Teuku Umar Johan Pahlawan disuntingkannya menjadi istri.
Kembali ke hal pedang, hingga akhirnya pedang ini kini berhasil ditemukan di dalam tempat tersembunyi yaitu dalam Gowa Tujoh Laweung, kabupaten Pidie. Menurut kisah disebutkan bahwa di dalam gowa tersebut ada 9 (sembilan) buah yang tersembunyi di dalamnya. Di antara sembilan buah pedang itu, satu telah dicuri oleh orang luar Aceh tapi kini telah berhasil kembali lagi kesitu. Kisah kehilangan pedang tersebut memang terasa bagai aneh dan penuh mistery, wallahu a’lam..
Dari hasil kesepakatan para leluhurnya pedang ini hanya diberikan pada orang yang alim lagi kesatria, amanah dan tidak fasik. Tentu ada kriteria khusus dan tersendiri yang dapat menguasai pedang tersebut. Dan kini keberadaan pedang tersebut dikuasai oleh salah seorang dari keluarga turunan Teuku Ibrahim itu.
Demikian adanya riwayat yang saya dapatkan dari almukarram Abati saat bersilaturrahmi di Hari Raya Fitrah ini.

Minggu, 17 Juli 2016

Lintas Sejarah Hubungan Aceh dengan Turki

Hubungan Aceh dan Negeri Turki dalam Catatan Sejarah

 

TURKI tidaklah asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Aceh pada saat ini. Ikatan sejarah masa lalu yang telah mendarah daging khususnya bagi masyarakat Aceh. Gerakan-gerakan pemuda Turki masa lalu juga telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Hubungan Aceh dan Turki Usmani pada masa lalu sangatlah erat, hingga bisa dikatakan seperti hubungan adik dan kakak. 
Dinasti Tukey Utsmaniyah

Beberapa sumber baik yang berasal dari hikayat-hikayat Aceh seperti Hikayat Aceh, Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dan juga tulisan Nuruddin Ar-Raniry yakni Bustanu’s-salatin menunjukkan bahwa  Kerajaan Turki Usmani dahulu telah membantu Kerajaan Aceh dalam memerangi bangsa Portugis
 
 
Dalam Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dikisahkan tentang kemurahan hati Sultan Kerajaan Turki Usmani yang mengirimkan ahli-ahlinya untuk mengajarkan seni berperang, membangun Kerajaan Aceh, juga menghadiahkan beberapa meriam sebagai alat bantu perang yang terkenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Dinamakan Meriam Lada Sicupak karena jauh dan rumitnya perjalanan dari daratan Aceh ke Kerajaan Turki, yang mengakibatkan utusan Kerajaan Aceh tersesat sampai memakan waktu tiga tahun untuk sampai di daratan Turki. Mereka terpaksa menjual padi, beras, dan lada-hadiah untuk Raja Turki yang masing-masing barang tersebut dimuat dalam tiga kapal layar-demi bertahan hidup.

Rombongan Aceh yang tiba di Istanbul dengan kapal bermuatan lada, komoditi paling berharga zaman itu ditugaskan Sultan Alauddin mempersembahkan lada yang dibawa kepada Sultan Sulaiman. Lada yang dibawa itu juga menjadi sumber perbelanjaan selama rombongan itu di Istanbul menanti dibenarkan menghadap Sultan Sulaiman yang sedang memimpin tenteranya di Hungary. Akhirnya, Sultan Sulaiman mangkat pada 1566 dan jasadnya dibawa pulang untuk dimakamkan di Masjid Sulaimaniye, Edirne.

Hanya  tinggal Lada sebanyak setengah bambu (Lada Sicupak) yang bisa dipersembahkan kepada Raja Turki Usmani. Selain itu, pada De Hikajat Atjeh dikisahkan juga tentang kunjungan utusan Kerajaan Turki ke Aceh untuk mencari obat bagi Raja Turki yang sedang mengidap suatu penyakit. Setelah mendapatkan obat yang dicari, maka pulanglah utusan tersebut dari Aceh dan dilaporkanlah kepada Sultan Turki Usmani tentang kemegahan Kerajaan Aceh. Sultan pun mengatakan pada wazirnya, “Pada masa lampau di Bumi atas kehendak Allah terdapat dua Raja besar yaitu Nabi Sulaiman dan Raja Iskandar Zulkarnain, maka pada zaman sekarang atas kehendak Allah terdapat dua raja yang amat besar, kita di Barat dan Sri Sultan Perkasa `Alam Raja di Timur.”

Sayangnya, di dalam hikayat-hikayat tersebut tidak   didapatkan informasi secara jelas tentang raja yang berkuasa di Turki dan di Aceh  saat itu. Namun, berdasarkan sumber yang lebih terpercaya sebagaimana  ditulis oleh Muhammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, pengiriman bantuan dari Turki ke Aceh terjadi ketika Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar berkuasa di Aceh. Apabila kita membaca  sumber yang ditulis sejarawan asing, baik dari Turki ataupun negara lain, disebutkan bahwa hubungan Kerajaan Aceh dan Turki telah terjalin sepanjang abad ke-16 sampai awal abad ke-17.

Kerajaan Aceh menjalin hubungan dengan Turki semenjak Turki Usmani berada di bawah kekuasaan Sultan Selim I, kemudian berganti Sultan Sulaiman I, sampai masa Sultan Selim II, bahkan berlanjut lagi pada abad ke-19 ketika kekuasaan di tangan  Sultan Abdulmejid II. Sumber Turki, Ismail Hakki Goksoy, menyebutkan, Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar mengirim surat kepada Sultan Sulaiman melalui duta besar Hussein bertanggal 7 Januari 1566 dengan tujuan meminta bantuan militer untuk memerangi pasukan Portugis.

Namun, bantuan berupa ahli perang, kapal, meriam, tentara bersenjata lengkap tidak dapat segera dikirimkan dikarenakan beberapa peristiwa yang terjadi di Istanbul pada saat itu, termasuk juga peristiwa pengangkatan Sultan Selim II menggantikan Sultan Sulaiman yang mangkat. 

Istanbul Turki saat itu pernah dikenali sebagai "Islambul" yang bermaksud Kota Islam yang dibelah dua oleh Selat Bosphorus, memisahkan benua Asia dari Eropah. Menara masjid yang kelihatan di mana saja di kota itu  menggambarkan pengaruh Islam yang kuat sepanjang 471 tahun era Uthmaniyah di Istanbul. Sejak 1453 hingga 1924 iaitu dari detik Muhammad Al-Fateh membuka kota Constantinople hingga ke saat Mustafa Kamal Atarturk mengisytiharkan berakhirnya institusi Khalifah Uthmaniyah di Turki, 1001 peristiwa tercatat di lembaran sejarah Islam.

Keagungan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, pemimpin empire Uthmaniyah yang mewariskan kemegahan Islam melalui perluasan jajahan takluk dan penyebaran agama Islam, masih disebut hingga hari ini. Mungkin kejayaan itulah yang menjadi inspirasi kepada Sultan Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar, hingga merangsang beliau menghantar wakil diplomatik ke Istanbul. 


Saat itu, Ancaman Portugis di Nusantara para rombongan Aceh turut menceritakan hal itu kepada Sultan, maka baginda mengerahkan armadanya bersama meriam Turki, Ahli pembuat meriam dan senjata api pulang bersama rombongan Aceh. Pelabuhan Melaka bersejarah adalah kota rebutan di Selat Melaka yang menyaksikan kehadiran tiga kuasa Eropah sejak 1511 berpunca pada perdagangan rempah yang dikuasai pedagang Islam yang berulang alik antara dunia timur dan barat.
 
Makam Ulama Turki Salahuddin di Aceh ( Teungku Di Bitay)
Selama keberadaannya di Aceh, utusan yang dikirim dari Kerajaan Turki telah banyak memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap Kerajaan Aceh. Di samping hubungan dagang antara dua kerajaan tersebut, Turki Usmani juga mendirikan akademi militer di Kerajaan Aceh yang telah mencetak pemimpin perang tangguh. Salah satunya  Laksamana Keumalahayati. Keumalahayati adalah seorang  perempuan Aceh yang pernah memimpin berpuluh kapal perang, yang di setiap kapal tersebut terdapat ratusan tentara. Di samping itu, Goksoy juga menyebutkan dalam tulisannya tentang bendera Kerajaan Aceh yang berlatar merah bersimbolkan bulan sabit dan bintang putih dengan pedang di bawahnya.

Ini semua  pengaruh dari Kerajaan Turki Usmani. Hubungan antara dua kerajaan berlanjut lagi pada pertengahan abad ke-19 ketika Belanda menjajah Aceh. Sultan Aceh meminta bantuan kembali kepada Turki Usmani agar mengirimkan pasukan dan juga meminta kerajaan Aceh agar ditegaskan sebagai bagian dari Turki Usmani. Tujuannya  agar Belanda tidak dapat menguasai tanah Aceh.

Namun, pada abad ini Turki Usmani telah mengalami kemunduran pesat karena kekuatan Eropa yang semakin kuat dan semakin berkuasa di tanah Turki. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan, walaupun Turki Usmani mengirimkan sejumlah utusannya ke Aceh. Sekalipun tidak berhasil mengusir penjajah dari Melaka, kesultanan Aceh memberi isyarat jelas kepada Portugis bahwa Aceh bukan negara sembarangan, dan kerajaan Islam terbesar di nusantara itu turut mempunyai sekutu dan sangat disegani di tanah Eropa.

Setelah sekian lama tidak berhubungan dengan Aceh, Turki kembali mengirimkan bantuan kemanusiaannya setelah bencana gempa dan tsunami terjadi pada akhir tahun 2004. Tidak hanya berhenti pada saat itu, Turki terus melanjutkan bantuannya dengan mendirikan Sekolah Fatih dan juga memberikan bantuan berupa beasiswa bagi pemuda-pemudi Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan S1, S2 dan S3 ke Turki. Setiap tahunnya sejak tahun 2007, jumlah masyarakat Aceh yang menempuh studi di Turki semakin bertambah, khususnya pada tingkat strata-1 dengan bidang ilmu yang bervariasi seperti teknik,  kedokteran, politik, komputer, hingga  sejarah. Semoga saja persahabatan dua negara muslim ini akan mengulangi kejayaan Islam  seperti abad keemasan Islam pada masa lalu.
 

Selasa, 12 Juli 2016

"Salah Paham Terhadap Aceh" (Khususnya untuk Orang Jawa dan Sekitarnya Mohon dibaca Sampai Habis)

Khususnya untuk Orang Jawa dan Sekitarnya Mohon dibaca Sampai Habis
"Salah Paham Terhadap Aceh"
Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka kembali luka lama Aceh tetapi hanya untuk meluruskan sejarah yang ada.
Kenapa harus Aceh?

Pencarian saya tentang sejarah Aceh berawal dari kesalahpahaman teman saya di Kairo dengan mahasiswa Aceh yang juga teman saya di Kairo, bahwa mahasiswa Aceh di sana itu eksklusif, tertutup, dan suka membanggakan suku sendiri (contohnya seperti penyebutan masyarakat Aceh yang berubah menjadi rakyat Aceh). Seketika timbul pertanyaan di benak saya : Kenapa dengan orang Aceh? Ada apa dengan mereka? Apa sebabnya teman saya mengatakan seperti itu?. Lalu, saat saya meminta klarifikasi langsung dari salah satu teman saya yang menjadi mahasiswa Aceh di sana via Facebook, saya mendapatkan satu kesimpulan bahwa “Orang Aceh pernah punya pengalaman buruk di masa lalu dengan orang Jawa”. Dan saat itu saya baru teringat bahwa teman saya yang salah paham itu adalah orang Jawa.
Tentara Jawa di Aceh (ilustrasi)
Pada awalnya pun saya sempat agak terpengaruh juga dengan ucapan teman saya karena jujur saja, saya paling tidak suka dengan orang yang sukuis (membanggakan suku sendiri lebih baik dari suku yang lain) tapi saya juga tidak bisa menilai dari satu pihak saja, saya harus mencari sendiri apa penyebabnya.
Pikiran saya langsung tertuju pada cerita teman saya yang mahasiswa Aceh bahwa, “Mereka yang di kuburkan di kuburan Kherkof Belanda di Aceh kebanyakan adalah orang-orang Pribumi, bisa dikatakan orang-orang Jawa yang meninggal di Aceh karena termakan taktik devide et impera-nya Tentara Belanda juga ikut di kubur di situ”. Tak hanya itu, saya langsung teringat dengan komentar Pramudya Ananta Toer terhadap Novel Bidadari Hitam yang di tulis oleh T.I Thamrin-orang Aceh asli, “Setiap kali ada yang datang dari suku Aceh, saya selalu minta maaf sebagai orang Jawa. Sudah lebih 100 tahun orang Jawa memerangi Aceh, saya ikut-ikutan bersalah…”.
Dialog-dialog yang ada di dalam Novel tersebut pun membuat saya jadi makin penasaran dengan apa yang terjadi pada Aceh di masa lalu…
“Tidak, nong. Nama kita semua adalah Aceh. Karena itu kita memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di mata orang Jakarta. Aceh yang pernah menolong dan memberi makan mereka, membelikan mereka 2 pesawat terbang, membiayai NKRI yang lagi terjepit ekornya. Tapi, ketika mereka sudah berani mengambil sendiri di lumbung kita, mereka melecehkan, memburu dan membunuh kita seperti kecoak. Kita bilang, silahkan ambil tapi jangan mencuri dan jangan kemaruk, lalu mereka marah besar, menuduh kita pemberontak, karena itu wajib dibunuh. Perempuan kita yang melawan juga diburu dan diperkosanya, seperti tak malu pada Ibu dan saudarinya sendiri. Seperti Ibu dan saudarinya bukan perempuan saja.”.
Timbul banyak pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya, “Ada apa dengan Aceh pada masa lalu? Kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Alasan apa yang menyebabkan Aceh sampai ingin bergabung dengan NII dan mendirikan DI/TII atau GAM? Kenapa Pemerintah pada jaman dulu (era Presiden Sukarno sampai Presiden Megawati) harus bertindak brutal, kejam dan sadis hanya karena ingin mempertahankan Aceh untuk tetap di wilayah NKRI? Kenapa cara-cara tersebut harus di lakukan oleh Pemerintah?”
Dan dari situ saya baru menyadari bahwa ada potongan sejarah lain yang belum saya ketahui dari Aceh.

Aceh masa lalu adalah Sebuah Negara.
Tak etis rasanya bila saya tidak menceritakan saat Aceh masih menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri.

Sejarawan Said ‘Alawi Thahir al-Haddad dalam bukunya “Al-Madkhal ilaa Taarikh al-Islam fi al-Syarq al-Aqsa” menyebutkan satu dokumen kuno dari Dinasti Yang di Cina, yang menceritakan pada tahun 518 M telah datang kepada raja Cina utusan dari kerajaan Puli yang terletak di ujung utara pulau Sumatera (kerajaan Puli adalah kerajaan Puli atau Indra Puri yang memang telah ada di Aceh sebelum Islam datang. Namun, karena kesulitan mengucap huruf R dalam dialek Cina, maka berubah menjadi L sehingga tertulis “Puli” dalam dokumen Dinasti Yang tersebut. Sisa-sisa dari kerajaan ini masih bisa ditemukan di kawasan Indra Puri, Aceh Besar). Dokumen ini juga menceritakan bahwa kerajaan Puli terbagi dalam 136 wilayah dengan luas wilayah 50 hari perjalanan kaki dari utara ke selatan dan 20 hari perjalanan kaki dari barat ke timur. Dokumen ini membuktikan bahwa sejak abad ke-6 M, orang-orang yang mendiami daerah pesisir Aceh telah mengenal suatu tata cara kehidupan yang berperadaban cukup maju dibanding kawasan-kawasan lain di Nusantara, kecuali kawasan pinggiran sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dimana kerajaan Hindu Kutai telah berdiri sejak abad ke 5 M, begitu juga kawasan Jawa Barat dengan kerajaan Taruma Negaranya.
Daerah pesisir utara Aceh mulai disinggahi para pedagang Muslim dari Malabar di India atau langsung dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M (1 H), sebagaimana disebutkan L. Van Rijck Vorsel dalam bukunya “Riwayat kepulauan Hindia Timur”. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang Arab telah lebih dahulu tiba di Sumatera 750 tahun sebelum kedatangan Belanda ke sana.
Namun, kerajaan Islam baru muncul pada awal abad ke-9 M. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pertama di Aceh adalah kerajaan Peureulak di pesisir timur Aceh yang berdiri pada tahun 804 M, kerajaan Lamuri dan Samudra Pasai di pesisir utara Aceh.
Pada awal abad ke 16 M, berdirilah kerajaan Islam Aceh Darussalam yang berbentuk kesultanan Aceh dengan raja pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah (1513-1530) putra dari sultan Syamsu Syah dan cucu dari sultan Inayat Syah dari kerajaan Lamuri. Kerajaan Aceh Darussalam yang lahir pada tanggal 12 Dzulqa’idah 916 (1513 M) adalah sebuah kerajaan Federasi yang terdiri dari kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam Samudra Pasai, kerajaan Lamuri, kerajaan Islam Lamno Jaya, kerajaan Islam Lingge, kerajaan Islam Pedir dan kerajaan Islam Teuming. Peleburan kerajaan-kerajaan Islam Aceh dalam satu wadah itu kemudian diberi nama kerajaan Aceh Raya Darussalam, atau lebih dikenal dengan proklamasi Samudra Pasai.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia mampu menempatkan kerajaan Islam di Aceh pada peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Kelima kerajaan Islam tersebut adalah kerajaan Islam Turki Utsmani di Istanbul, kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, kerajaan Islam Akra di India dan kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara. (Mutiara Fahmi, tesis: Gerakan Kemerdekaan di Aceh dalam pertimbangan Hukum Islam, 2006, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 70-72)

Lalu kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI?
Berikut ini adalah beberapa faktor kenapa Aceh pernah ingin memisahkan diri dari NKRI:
Sikap pemimpin RI yang dipandang oleh Tgk. Daud Beureueh telah menyimpang dari jalan yang benar.
Karena pada waktu itu Presiden Sukarno pernah berjanji memberikan hak kepada Aceh untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam dan janji tersebut tak pernah diwujudkan. Hal ini diperkuat oleh pengakuan saksi dan pelaku sejarah Tgk. H. Syech Marhaban Hasan yang menceritakan, saat kunjungan Soekarno ke Aceh, Soekarno pernah meminta kepada Tgk. Daud Beureueh untuk membantu perang bersenjata antara Indonesia dengan Belanda, Daud Beureueh menyanggupi asalkan dengan 2 syarat : perang yang dikobarkan adalah perang Fisabilillah dan rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya apabila perang telah usai. Akhirnya Soekarno menyanggupi 2 syarat tersebut, Namun, Daud Beureueh meragukan janji Soekarno dan meminta Soekarno untuk menuliskan janjinya tersebut di atas secarik kertas. Melihat hal itu, Soekarno langsung menangis terisak-isak dan merasa tidak dipercaya. Melihat Soekarno menangis, Daud Beureueh menjadi terharu dan kemudian berkata, “Bukan kami tidak percaya saudara presiden. Akan tetapi, hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”. Lalu Soekarno menyeka air matanya dan menjawab: “Wallahi, Billahi, kepada Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syari-at Islam. Dan Wallahi, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya”. Menurut keterangan Daud Bereueh, karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, dirinya tak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno. (Ibid, hlm. 119-121)
Kekecewaan rakyat Aceh saat status propinsi Aceh yang belum genap berumur setahun dibubarkan oleh kebijakan Pemerintah Pusat dan menggabungkannya dengan Propinsi Sumatera Utara (yang berbeda latar belakang serta kebudayaannya) dengan alasan yang cukup ironis yaitu karena bertentangan dengan hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang hanya mengakui 10 propinsi dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS). Padahal, RIS itu sendiri justru lahir dan mendapat pengakuan Internasional karena masih adanya Aceh sebagai satu-satunya wilayah modal Indonesia yang tidak dapat kembali di duduki oleh Belanda dalam perjuangan fisik. (Ibid, hlm. 121)
Saat Aceh masih menjadi sebuah Negara, Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda, sehingga secara hukum, Aceh bukan Hindia Belanda dan dengan demikian saat Hindia Belanda menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis berada di dalamnya. Menurut teori Ilmu Negara dan Hukum Internasional, bangsa dan Negara Aceh belum lebur tapi bermasalah. Hilangnya status suatu bangsa dan negara menurut Sofyan Ibrahim Tiba, SH (juru runding Gerakan Aceh Merdeka) karena satu dari dua alasan, yaitu alasan alam, seumpama buminya hancur atau tenggelam. Dan alasan sosial politik, jika negara atau bangsa itu telah menggabungkan diri ke dalam atau bersama bangsa lain. Oleh karena itu, menurut GAM, penggabungan Aceh ke dalam Indonesia saat proklamasi 17 Agustus 1945 belum sah dan merupakan kekeliruan ketata-negaraan. Aceh menurutnya, sejak proklamasi tidak pernah menyatakan bergabung dengan NKRI seperti halnya Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman melalui keputusan Kotikokootai (Dewan Perwakilan Rakyat) tanggal 19 Agustus 1945. (Ibid, hlm. 141-142)
Karena perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat terhadap Aceh. Seperti sikap sentralistik pemerintah Orba terhadap Aceh yang telah melahirkan kesenjagan sosial-ekonomi yang cukup mencolok di daerah istimewa Aceh. Sebagai contoh, penerimaan APBD propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1997/1998 hanya berkisar 150 milyar dari +/- Rp. 32 triliun yang disumbangkannya untuk negara pada tahun yang sama. Artinya, apa yang diterima Aceh tidak sampai 0,5 % dari total yang disumbangkannya. (lihat Said Mudhakar Ahmad, Masalah Aceh: Dilema antara Sikap, Martabat dan Rasa Keadilan, Waspada (Harian), Medan 31 Agustus 1998). (Ibid, hlm. 82).
Alih-alih ingin mengamankan situasi dari tindakan suatu gerakan yang disebut pemerintah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM), banyak korban sipil yang menjadi korban pelanggaran HAM berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against Humanity) dalam pemberlakuan status DOM tersebut. Seperti adanya pembunuhan, adanya penyiksaan atau penganiayaan baik secara fisik maupun mental, adanya penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, adanya kekerasan seksual, adanya penghilangan paksa dll. (untuk mengetahui lebih jauh tentang jumlah korban DOM, lihat buku yang ditulis oleh Al-Chaidar, (Ibid, hlm. 84).
Karena efek dari kesalahpahaman teman saya inilah yang akhirnya membuat saya menjadi jatuh cinta pada Aceh dan masa lalunya. Seharusnya mereka yang kontra terhadap pemberlakuan syari’at Islam di Aceh dengan alasan karena terbentur dengan undang-undang yang ada di atasnya bisa mengingat kembali janji dan sumpah Presiden Sukarno dulu terhadap Tgk Daud Beureueh-khususnya pada rakyat Aceh.
Oleh: Sarah Mantovani, SH.

Jumat, 20 Mei 2016

Menelusuri Asal Usul Pesawat Tempur Di Simpang Aneuk Galong Montasik

Maimun Saleh lahir 14 Mei 1929. Dia putra kedua dari lima bersaudara pasangan Tgk HM Saleh dan Aisyah, yaitu Tgk Hasballah, Maimun Saleh, Abasyah, Hadisyah dan Tgk Faisal. Maimun Saleh menempuh pendidikan di sekolah Taman Siswa dan sekolah menengah Islam di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Tahun 1949 Maimun diterima menjadi murid penerbang di Koetaradja. Pada 1950 dia dipindahkan ke sekolah penerbang di Kalijati Jawa Barat, dan 1 Februari 1951 berhasil memperoleh ijazah sebagai penerbang kelas 3.

Sejarah Pesawat Tempur Di Simpang Aneuk Galong Montasik Aceh Besar (Aceh Rayeuk)
Pesawat Tempur Di Simpang Aneuk Galong Montasik Aceh Besar
Setelah itu, Maimun Saleh masuk Skuadron IV (pengintai darat) dan turut serta dalam semua operasi yang dijalankan oleh skuadron ini. Namun maut tak dapat disangka. Pada Jumat, 1 Agustus 1952, Sersan Maimun Saleh yang sedang menerbangkan pesawat intai Auster IV-R-80 mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak Bogor pukul 09.25 WIB. Maimun gugur dalam kecelakaan itu.
Atas prakarsa Teuku Syahril, pembangunan monumen pesawat tempur di atas tugu Maimun Saleh, selain untuk mengenang jasa penerbang pertama dari Aceh, juga sebagai bentuk terima kasih dan ikatan batin antara Angkatan Udara dan masyarakat Aceh. Ini juga terkait dengan jasa masyarakat Aceh yang menyumbangkan pesawat terbang pertama RI-001 Seulawah kepada Indonesia sebagai modal awal saat Indonesia baru merdeka.
prosesi peletakan pesawat tempur Hawk-200 di atas Tugu Maimun Saleh dilakukan Januari 2008, dan dipimpin Danlanud SIM, Letkol Pnb Fachri Adami.
Menurut Fachri, pesawat tempur yang dijadikan monumen itu pesawat asli, bukan replika, termasuk empat amunisi yang terdapat di atas sayap pesawat. Hanya saja, pada amunisi itu detonator dan peluru ledakannya tidak dipasang lagi.
Jet tempur itu sendiri sebenarnya sudah dibawa ke Aceh pada 2003, setelah pesawat mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan di Pekanbaru, Riau. Dalam kecelakaan itu beberapa bagian badan pesawat retak dan tak bisa diterbangkan lagi.
Masyarakat Aceh patut berbangga hati, karena satu-satunya daerah yang menerima pesawat tempur untuk dijadikan monumen adalah Aceh. Dengan demikian Aceh sekarang memiliki tiga monumen pesawat, yaitu monumen pesawat RI-001 Seulawah di Blang Padang (Banda Aceh), monumen pesawat tempur Hawk-200 di Tugu Maimun Saleh, dan pesawat jenis A4 SkyHawk TT-0435 buatan Amerika dari Skuadron 11 Makassar yang sekarang ditempatkan di apron Lanud Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar sebagai monumen kedirgantaraan.
Peresmian monumen pesawat tersebut oleh Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto ST pada 24 September 2010.

jika Anda melintasi jalan raya Banda Aceh-Medan — dari arah Medan menuju Banda Aceh—di sekitar Km 14 sebelum memasuki kota Banda Aceh, tepatnya di simpang Desa Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, di sisi kiri akan terlihat sebuah monumen pesawat tempur jenis Hawk 200, milik TNI Angkatan Udara.
Monumen pesawat tempur itu dipasang di atas tugu Maimun Saleh, yang dimaksudkan untuk mengenang jasa Maimun Saleh sebagai penerbang pertama asal Aceh. Maimun Saleh gugur pada 1 Agustus 1952 dalam usia 25 tahun akibat kecelakaan pesawat intai di Pangkalan Udara Semplak, Bogor, Jawa Barat.
Monumen pesawat tempur ini sengaja ditempatkan di Aneuk Galong karena Maimun Saleh lahir di desa ini. Pendirian monumen itu tak lepas dari inisiatif Marsekal Udara Teuku Syahril, putra Aceh kelahiran Montasik Aceh Basar, yang pada 2008 menjabat sebagai Komandan Operasi Angkatan Udara I. Desa Aneuk Galong dan Desa Montasik tempat kelahiran Teuku Syahril tidak berjauhan.

Nama Maimun Saleh, selain diabadikan pada tugu di simpang Aneuk Galong, juga telah diabadikan pada bandara militer Lhoknga Aceh Besar. Setelah lapangan terbang Lhoknga tidak digunakan lagi, karena telah dibangun Bandara Blang Bintang yang sekarang bernama Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), maka nama Maimun Saleh kemudian diabadikan pada lapangan terbang Cot Bak U di Sabang. Selain itu, nama Maimun Saleh juga diabadikan sebagai nama jalan di pusat perbelanjaan Peunayong, Banda Aceh.
Pemasangan Tugu Pesawat, Simpang Aneuk Galong, Montasik.
Pesawat tempur Hawk-200 buatan Inggeris, pada 1980-an yang dijadikan monumen atas tugu itu adalah pesawat tempur utuh dan asli. Hanya saja, pesawat ini tidak bisa lagi dipergunakan karena beberapa bagian badan pesawat ada yang sudah retak.
Atas usaha Marsekal Teuku Syahril dengan berbagai perjuangan yang membutuhkan waktu, akhirnya pesawat tersebut berhasil diboyong ke kampung Maimun Saleh untuk dijadikan monumen yang berjarak hanya sekitar 200 meter rumah Maimun Saleh sendiri.
Gambar: sianakdesa
Sumber: atjehgallery | aneukbolangdotblogspotdotcodoid
Tugu Jet Tempur Maimun Saleh Aneuk Galoeng Montasik Aceh Besar

Rabu, 18 Mei 2016

Korban Jambo Keupok Minta Presiden Tegakkan HAM

BAKONGAN | Pegiat hak asasi manusia di Aceh memperingati peristiwa kekerasan Jamboe Keupok yang terjadi 13 tahun lalu pada saat konflik bersenjata antara GAM dan TNI. Peringatan dipusatkan di Gampong Jamboe Keupok, Kecamatan Kota Bahagia, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (17/52016) malam.


Peringatan 13 tahun tragedi Jambo Keupok 17 Mei 2016


Para aktivis memperingati momen itu secara sederhana bersama keluarga korban dan unsur pemerintah daerah setempat.

“Ini bagian dari merawat ingatan dan menuntut keadilan,” kata Hendra Saputra, koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Rabu, 18 Mei 2016.

Menurut dia peringatan dipusatkan di tempat kejadian.

Peristiwa Jamboe Keupok, kata dia, adalah penyiksaan, pembunuhan dan pembakaran terhadap 16 warga Desa Jamboe Keupok, Aceh Selatan yang dilakukan aparat keamanan. Pelanggaran HAM tersebut telah dilakukan projustisia (penyelidikan) oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang berkas penyelidikannya telah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung.

Baca: Tragedi Jambo Keupok, Pembantain Muslim Aceh oleh TNI di Bakongan

Kata Hendra, kegiatan yang dilakukan saban tahun itu bertujuan untuk merawat memori dan sebagai ekspresi untuk meminta pertanggungjawaban negara.
“Selama ini keluarga korban telah melakukan berbagai upaya untuk meminta pertanggungjawaban negara atas kasus tersebut,” ujarnya.

Korban, kata dia, juga meminta Presiden dan Gubernur Aceh agar melakukan upaya-upaya yang konkrit, cepat dan sistematis untuk pemenuhan hak korban pelanggaran hak asasi manusia masa lalu, termasuk hak kebenaran, hak keadilan, hak pemulihan dan jaminan ketidakberulangan. Komnas HAM juga diminta untuk pengungkapan kebenaran dan penegakan hukum atas kasus tersebut.
Anggota Komnas HAM, Otto Syamsuddin Ishak kepada Tempo mengakui pihaknya telah turun untuk menyelidiki kasus Jambo Keupok di Aceh Selatan.

“Hasilnya telah disampaikan ke Kejaksaan Agung,” ujarnya.
Komnas HAM, kata dia, serius menangani kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu di Aceh. Otto mengharapkan masyarakat mendukung upaya yang dilakukan Komnas HAM. (Sumber : Goaceh.co)