Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta

Di salah satu sudut pasar Madinah Al-Munawwarah ada seorang Pengemis Yahudi buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tampa berkata sepatah katapun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada Pengemis itu. Walaupun Pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada Pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah Anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada Anaknya, “Wahai Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan ?”.

Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah, engkau adalah seorang Ahli Sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum pernah ayah kerjakan kecuali satu sunnah saja”.

“Apakah itu ?” tanya Abu Bakar r.a.

“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang Pengemis Yahudi buta yang berada di sana” kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada Pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi Pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si Pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu !!”.

Abu Bakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa”.

“Bukan ! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si Pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri”, Pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada Pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Setelah Pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian ?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…". Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.


Hati sang Nabi


cerita inspiratif islami, kisah inspiratif islami, Bening Hati sang Nabi, kisah nabi muhammad

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW selalu bersifat rendah hati dan pemaaf. Tiada terhitung banyaknya cacian dan hinaan yang diterima Beliau dari kaum kafir Quraisy. Namun, Beliau tetap berbuat baik terhadap orang-orang yang menghinanya itu. Salah seorang yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nenek tua Yahudi. Kebetulan jika Nabi ke Masjid selalu melewati rumah si Nenek. Suatu hari Rasulullah lewat, si Nenek sedang menyapu rumahnya. Buru-buru si Nenek mengumpulkan sampah dan debu dari rumahnya. Ketika Rasulullah lewat di depan jendela, maka dilemparkannyalah sampah dan debu itu. Rasulullah terkejut, namun ia tidak marah begitu tahu siapa yang melemparnya. Malah Rasulullah mengangguk sambil tersenyum. “Assalamu’alaikum !” sapa Rasulullah. Nenek itu malah melotot kepada Rasulullah. “Enyah, kau !” kata si Nenek.

Keesokan harinya, Rasulullah lewat lagi di depan rumah si Nenek. Masya Allah, ternyata si Nenek sudah bersiap-siap lagi melempar Rasulullah dengan kotoran. Kali ini dia juga meludahi Rasulullah. Bagaimana sikap Nabi Muhammad ? Lagi-lagi, Rasulullah hanya tersenyum dan berusaha membersihkan pakaiannya. Si Nenek menjadi tambah marah karena Rasulullah SAW  tidak terpengaruh.

Begitulah, beberapa hari Rasulullah lewat di depan rumah si Nenek tersebut. Setiap kali itu pula ia menerima lemparan sampah dan debu. Rasulullah tetap saja tidak marah. Suatu kali Rasulullah SAW, lewat lagi di depan rumah sang Nenek. Tapi, kali ini lain. Si Nenek tidak kelihatan. Padahal, Rasulullah sudah bersiap-siap menyapanya. “Aneh,” pikir Rasulullah, “Pasti ada sesuatu yang terjadi pada si Nenek.” Rasulullah lalu mendatangi tetangga si Nenek. “Apakah engkau tahu apa yang terjadi dengan Nenek di sebelah rumah ini ? Aku tidak melihatnya hari ini,” tanya Rasulullah.

“Mengapa engkau begitu peduli pada dia, Wahai Rasulullah ? Bukankah ia selama ini selalu menghinamu ?” Rasulullah hanya tersenyum mendengar pertanyaan tetangga si Nenek. Tetangga itu lalu menjelaskan bahwa si Nenek itu tinggal sebatang kara, dan kini sedang sakit keras.

Maka, bergegaslah Nabi Muhammad menuju rumah si Nenek yang sedang sakit. Di rumah itu, Rasulullah membantu memasak makanan, mengambilkan air dari sumur dan membersihkan debu – debu di rumah. Si Nenek heran melihat ada orang yang membantunya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Lalu, tahulah ia siapa sebenarnya yang membantunya. Begitu melihat wajah Rasulullah yang sangat tulus, Nenek itupun menitikkan air mata. Selama ini tidak ada yang mau merawatnya. Tapi, justru orang yang selama ini dihinanya, dengan penuh kasih sayang merawatnya. Sungguh mulia hati orang ini. Si Nenek lalu meminta maaf kepada Rasulullah.

Begitulah salah satu kisah tentang kemuliaan dan kebeningan hati Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Para Sahabat dan orang-orang yang pernah mengenal Beliau begitu menyayangi Beliau. Ketika Beliau wafat, orang segagah ‘Umar bin Khattab juga menangis tersedu-sedu.

Nah, Para Pembaca yang Budiman, si Nenek tadi juga akhirnya masuk Islam. Ia kemudian menjadi salah seorang muslimah yang taat. Banyak orang masuk Islam karena melihat akhlak Nabi Muhammad SAW, yang sangat luar biasa. Kita bisa meniru apa yang Beliau lakukan kepada orang lain, termasuk kepada orang yang berbuat buruk kepada kita sekalipun. (red)


Kisah pengembala


Seperti biasa, hari itu Muhammad kecil berangkat menggembalakan kambing ke lembah yang ditumbuhi rerumputan, bersama teman – teman sebayanya. Muhammad datang ke tempat itu untuk menggembalakan ternak saudaranya. Tak jarang mereka harus tinggal berhari-hari di dusun terpencil yang jauh dari Makkah.

Muhammad duduk di atas sebuah batu. Sepasang matanya yang tenang, penuh keikhlasan menatap tajam alam sekitarnya. Angin pegunungan yang bertiup menyegarkan badan. Matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat. Bulan dan bintang yang bermunculan pada malam hari. Semua teratur, berjalan sebagaimana mestinya. Jika tidak, pasti dunia ini akan binasa.

Pemandangan alam sangat menggoda hati Muhammad untuk terus merenungkan Sang Pencipta yang Maha Kuasa, sebaik-baik Pengatur alam beserta isinya. Muhammad duduk bertafakur, tenggelam dalam alam renungan.

Lalu, diperhatikannya kambing – kambing gembalaan yang memakan rumput. Khawatir ada yang berpencar terlalu jauh. Sebab, disekitar tempat itu masih ada serigala dan binatang – binatang buas yang mengincar hewan ternak.

“Hus ! Hus ! Jangan terlalu jauh dari indukmu. Nanti ada serigala !” serunya.

Ia sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Sesekali kambingnya mengembik. Lalu, kembali makan dengan tenang. Ketika melihat anak kambing yang bermain terlalu jauh, ia menggiringnya agar berkumpul kembali dengan kambing-kambing lainnya.

Dengan cermat, Muhammad memeriksa keadaan kalau - kalau ada serigala yang mengincar kambingya. Jika memang ketahuan ada serigala, ia akan segera mengusirnya jauh-jauh.
Begitulah, Nabi Muhammad yang pada masa kecilnya bekerja menjadi penggembala kambing keluarganya.

Kambing gembalaannya berkembang biak dengan cepat. Walaupun keturunan bangsawan Quraisy dan sanak saudaranya banyak yang kaya raya, tetapi Nabi Muhammad tidak mau menggantungkan hidupnya kepada mereka. Sesudah Nabi Muhammad yatim piatu, Abu Thalib, pamannya yang hidup kekurangan, mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.

Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, ia mulai berdagang bersama Abu Thalib ke tanah Syam. Akan tetapi, gagal. Sebelum mereka sampai di Syam, seorang Pendeta bernama Buhaira memperingatkan bahwa jiwa Muhammad dalam bahaya. Abu Thalib pun segera membawa Muhammad pulang ke Makkah. Mereka hanya berdagang sekadarnya. Keselamatan Muhammad jauh lebih penting.

Sesudah itu, Abu Thalib mengajak Muhammad berdagang di pasar-pasar dekat kota Makkah saja. Dalam berdagang, Muhammad selalu melayani pembeli dengan ramah, tutur kata yang lemah lembut dan jujur. Ia pandai menawarkan barang dagangannya sehingga dagangannya cepat habis terjual.

Seperti juga menggembala kambing, usaha dagang Muhammad berhasil baik. Sedikit demi sedikit barang dagangannya bertambah dan memperoleh untung yang besar. kini Muhammad di kenal sebagai pedagang yang berhasil di kota Makkah. Tetapi, ia tetap selalu bersyukur kepada Allah. Beliau tetap giat bekerja, gemar bersedekah dan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Walau telah menjadi Nabi dan mempunyai kedudukan yang tinggi, beliau tetap melakukan sendiri pekerjaan hariannya. Nabi selalu menambal sendiri bajunya yang robek, atau menjahit terompahnya yang putus talinya.

Nabi Muhammad membawa sendiri barang yang dibelinya di pasar. Abu Hurairah yang saat itu menemaninya, menawarkan diri untuk membawakan belanjaan itu, tapi Nabi melarangnya.

“Yang memiliki barang itulah yang lebih pantas membawa barangnya. Sebab, Allah menyukai orang yang tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain,” kata Nabi.

Bahkan, dalam suatu perjalanan bersama sahabatnya, mereka beristirahat sebentar untuk memasak makanan. Nabi Muhammad ikut mencari dan memanggul kayu bakar untuk memasak.

“Ya Rasulullah, biarlah kami yang mencari dan mengangkut kayu. Anda silahkan beristirahat sambil menunggu hidangan,” kata salah seorang Sahabat.

“Aku pun harus ikut mencari kayu bakar,” kata Nabi seraya tersenyum. Beliau tidak ingin berpangku tangan, sementara yang lain sibuk bekerja.

Dalam peperangan pun, Rasulullah sebagai Panglima perang tidak hanya memerintah di tempat duduknya. Beliau ikut bertempur ke tengah medan pertempuran bersama sahabat – sahabatnya.

Salah satu peperangan yang hebat di zaman Rasulullah ialah Perang Khandak atau Perang Parit. Kaum Muslimin bekerja keras siang – malam untuk menggali parit raksasa. Nabi Muhammad pun ikut menggali dan masuk ke lubang parit. Bahkan, beliau menghancurkan batu-batu, menyekop, dan memikul tanah di bahunya.

Sewaktu menggali parit, para Sahabat kewalahan dengan adanya batu yang sangat keras. Batu itu sukar dipecahkan oleh linggis maupun besi. Mereka melaporkannya pada Rasulullah.

“Ada batu yang keras sekali. Rasanya kami tak sanggup memecahkannya. Bagaimana Ya Rasul ?” tanya Sahabat. Lalu, Nabi turun kedalam parit. Seketika itu, dengan besi di tangannya, batu-batu itu dipecahkan. Saking kerasnya pukulan, bongkahan batu itu sampai menyemburkan api saat besi ditimpakan diatasnya.

Sungguh, pekerjaan yang amat berat dan menguras tenaga. Namun, peperangan tidak pernah terjadi. Musuh tidak jadi menyerang. Allah yang Maha Kuasa mengusir mereka dengan kekuatan alam. Udara dingin dan badai gurun yang menakutkan, membuat musuh tak berdaya dan menyerah kalah.

Sejak kecil sampai akhir hayatnya, Nabi Muhammad tak pernah merepotkan orang lain. Malahan, beliau selalu memberi bantuan apa saja kepada orang-orang yang membutuhkannya. Betapa mulia akhlak Rasulullah, dan sepantasnyalah bagi kita seorang Muslim untuk mencontohnya.

-

Madu dan Sehelai Rambut


Pada suatu hari, Rasulullah SAW dengan sahabat - sahabatnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bertamu ke rumah 'Ali. Di rumah Ali, istrinya Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik. Tetapi, ketika semangkuk madu itu dihidangkan, terlihat  sehelai rambut terikut di dalam mangkuk tersebut. Melihat semua itu, Rasulullah SAW kemudian meminta kepada semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu Bakar r.a. berkata, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Setelah Abu Bakar mengucapkan perbandingannya, Umar r.a. berkata, "Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang Raja itu lebih manis dari madu dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Kemudian, Utsman r.a. berkata, "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

'Ali r.a. berkata, "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Fatimah r.ha.berkata, "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-burdah (menutupi kepalanya dengan kerudung dan niqab) itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rasulullah SAW berkata, "Seorang yang mendapatkan taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Malaikat Jibril AS berkata, "Menegakkan pilar - pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Allah SWT berfirman, "Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Jika seandainya

Seperti yang telah biasa dilakukan oleh Rasulullah ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulang, disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rasulullah berkata, "Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya ?"

Istrinya menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya ?"

"Saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Hanya saja, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong".

"Bagaimana bunyinya ?" desak Rasulullah.

Istri yang setia itu menjawab,"Suami saya mengatakan : 'Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya....' hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai ?"

Rasulullah tersenyum, "Sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru," ujarnya.

Kisahnya begini, pada suatu hari ia sedang bergegas pergi ke Masjid hendak melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan, ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di Masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "Andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke Masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanyalebih besar pula.

"Ucapan lainnya, ya Rasulullah ?" tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab, "Adapun ucapannya yang kedua, yaitu tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke Masjid pagi-pagi, sedangkan saat itu cuaca sangat dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, dan kemudian diberikannya kepada lelaki tersebut. Sedangkan mantelnya yang baru itu dipakainya sendiri. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, 'Coba andaikan yang kuberikan kepadanya adalah mantelku yang baru dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

"Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah ?" tanya sang istri semakin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan, "Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan ? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak makan, tiba-tiba seorang musafir (orang yang sedang mengadakan perjalanan) mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak (sakaratul maut), ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, 'Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda'".

Memang begitulah keadilan Allah. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik sebetulnya kita juga yang akan beruntung, bukan orang lain. Lantaran, segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk, akibatnya juga akan menimpa kita diri kita sendiri.Karena itulah Allah mengingatkan : "Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula". (Surat Al Isra' : 7)

Rasulullah dan 8 Uang Dirham


Suatu hari Rasulullah SAW bermaksud belanja ke pasar. Dengan bekal uang 8 dirham, beliau hendak membeli pakaian dan peralatan rumah tangga. Belum juga sampai di pasar, beliau mendapati seorang wanita yang sedang menangis. Beliau sempatkan untuk bertanya kepada sang wanita kenapa menangis. Apakah sedang ditimpa musibah ? Perempuan itu menyampaikan bahwa ia adalah seorang budak yang sedang kehilangan uang sebesar 2 dirham. Ia menangis tersedu-sedu karena sangat takut membayangkan ia akan didera oleh majikannya. Dua dirham dikeluarkan dari saku Rasulullah untuk menghibur perempuan malang tersebut.

Kini tinggal 6 dirham. Beliau bergegas membeli gamis, pakaian kesukaanya. Akan tetapi baru beberapa langkah dari pasar, seorang tua lagi miskin setengah teriak berkata, "Barang siapa yang memberiku pakaian, Allah akan mendandaninya kelak". Rasulullah memeriksa laki-laki tersebut. Pakaiannya lusuh, tak pantas lagi dipakai. Gamis yang baru dibelinya dilepas dan diberikan dengan sukarela kepadanya. Beliau tak jadi memakai baju baru.

Dengan langkah ringan beliau hendak segera pulang. Akan tetapi lagi-lagi beliau harus bersabar. Kali ini beliau menjumpai perempuan yang diberi dua dirham tersebut mengadukan persoalan, bahwa ia takut pulang. Ia khawatir akan dihukum oleh majikannya karena terlambat. Sebagai budak saat itu nilainya tidak lebih dari seekor binatang. Hukuman fisik sudah sangat lazim diterima. Rasulullah diutus di dunia untuk mengadakan pembelaan terhadap rakyat jelata.

Dengan senang hati beliau antarkan perempuan tersebut ke rumah majikannya. Sesampainya di rumah, Beliau ucapkan salam. Sekali, dua kali belum ada jawaban. Baru salam yang ketiga dijawab oleh penghuni rumah. Nampaknya semua penghuni rumah tersebut adalah perempuan. Ketika ditanya kenapa salam beliau tidak dijawab, pemilik rumah itu mengatakan sengaja melakukannya dengan maksud dido'akan oleh Rasulullah dengan salam tiga kali.

Selanjutnya Rasulullah menyampaikan maksud kedatangannya. Beliau mengantar perempuan yang menjadi budak tersebut karena takut mendapat hukuman. Rasulullah kemudian menyampaikan, "Jika perempuan budak ini salah dan perlu dihukum, biarlah aku yang menerima hukumannya".

Mendengar ucapan Rasulullah in penghuni rumah terkesima. Mereka merasa mendapat pelajaran yang sangat berharga dari baginda Rasulullah. Kemudian, secara refleks mereka menyampaikan, "Budak belian ini merdeka karena Allah."

Betapa bahagianya Rasulullah mendengar pernyataan itu. Beliau sangat bersyukur dengan uang 8 dirham tersebut Beliau mendapat keuntungan ribuan dirham, yakni harga budak itu sendiri. Beliau berkata, "Tiadalah aku melihat delapan dirham demikian besar berkatnya dari pada delapan dirham yang ini. Allah telah memberi ketenteraman bagi orang yang ketakutan, memberi pakaian orang yang telanjang, dan membebaskan seorang budak belian".

Akhirnya, rahmat dan kasih sayang, bantuan dan pertolongan kepada masyarakat bawah akan mendatangkan kesejahteraan dan kemajuan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi. "Allah akan menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya."


Ada Apa Kau Kemari Wahai Umair ??


Setelah Perang Badar, Shafwan ibn Umayyah ibn Khalaf memberi tawaran kepada Umair ibn Wahb. Jika ia berhasil membunuh Rasulullah SAW, Shafwan akan melunasi hutang-hutangnya, menanggung keluarganya, dan melayani serta mempersiapkan keberangkatannya dengan kendaraan. Maka Umair pun datang ke Madinah, memasuki Masjid dengan pedang terhunus dan menemui Rasulullah SAW. Umar ibn Khattab mengantarkannya ke hadapan Nabi.

"Untuk apa kau kemari wahai Umair ?" tanya Rasulullah.

"Aku datang untuk seorang tawanan yang kau tawan, aku ingin mengambilnya," jawabnya dusta.

"Lalu pedang ini untuk apa ?"

"Sial benar pedang ini. Ia tidak untuk apa-apa. Aku lupa ketika turun dari kendaraan tadi dan ia berada di leherku," jawabnya mencoba mengelabui Rasulullah.

"Jujurlah, apa yang membawamu kemari ?" desak Rasulullah.

"Aku datang hanya untuk tawanan itu".

"Lalu apa yang dijanjikan Shafwan ibn Umayyah di dekat batu itu ?"

Dengan terkejut Umair menjawab, "Ia tidak menjanjikan sesuatu pun".

"Bukankah engkau menyanggupi untuk membunuhku dengan imbalan ia membayar hutangmu dan menanggung kehidupan keluargamu ? Namun Allah pasti mencegah keinginanmu itu".

Dengan penuh rasa heran dan takjub, kemudian ia berkata, "Asyhadu allaailaahaillallaah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu. Sungguh, benar apa yang kau katakan".

Kemudian berkatalah Rasulullah SAW kepada para Shahabat, "Ajarilah saudaramu ini Al Qur'an dan lepaskan tawanan yang ia inginkan".

Umair kemudian pulang ke Makkah untuk menyeru umat manusia kepada Islam. Bersamanya banyak sekali orang yang masuk islam.