Tampilkan postingan dengan label Shahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Hakim yang Adil Di.....

Setiap pagi, Syuraih bin Al Harits Al Kindi berangkat ke tempat kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan kearifan pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang teguh. Ia adalah seorang Hakim yang disukai dan disegani masyarakat.

Syuraih terbiasa menghakimi kalangan Kaum Muslimin maupun orang-orang bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara Pejabat atau Rakyat Kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang adil dan bijaksana.

Hari itu Syuraih kedatangan Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Rupanya, Khalifah ‘Umar sedang mendapat masalah dengan seorang Pedagang Desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya.

Dengan wajah yang tenang dan berwibawa, Syuraih memimpin sidang pengadilan.

“Silakan Tuan Pedagang, apa yang mau Anda sampaikan ?” tanya Syuraih.

“Pak Hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu Amirul Mukminin membeli seekor kuda dari saya,” kata Pedagang. “Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin mengembalikannya lagi dan meminta ganti,” lanjutnya.

Syuraih lalu berpaling pada Khalifah ‘Umar. “Dan sekarang giliran Anda, ya Amirul Mukminin,” kata Syuraih.

“Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan berpenyakit sehingga larinya tidak kencang,” kata ‘Umar bin Khattab.

“Bagaimana Tuan ?” tanya Syuraih lagi.

“Saya tidak akan menerimanya lagi, karena saya sudah menjual kuda itu dalam keadaan sehat dan tidak cacat,” sahut Pedagang Kuda itu. Syuraih mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu, Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khattab.

“Apakah ketika Amirul Mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat ?” tanya Syuraih seraya menatap Umar.

“Ya benar !” jawab ‘Umar jujur.

Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu. “Nah, kalau begitu, peliharalah apa yang Anda beli. Atau bila ingin mengembalikannya, kembalikanlah seperti ketika Anda menerimanya,” tukas Syuraih dengan mantap.

Hati Amirul Mukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu.

“Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih ?” tanya ‘Umar setengah memprotes keputusan itu. Syuraih menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

Khalifah ‘Umar merenung beberapa saat. Benar sekali apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, ‘Umar dapat menerimanya. Jangan mentang – mentang ia pejabat, lalu harus selalu dimenangkan perkaranya. Sementara nasib Rakyat Kecil tidak diperhatikan.

Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh Syuraih. Pengadilannya adalah tempat mendapatkan tempat yang seadil-adilnya. Hingga pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib, Syuraih tetap memangku jabatan Hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakat kota Khuffah.

Suatu hari, Khalifah ‘Ali mendatangi Hakim Syuraih untuk mengajukan perkara dengan seorang Yahudi.

“Ada masalah apa, ya Amirul Mukminin?” tanya Syuraih.

“Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal, aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapapun,” sahut Khalifah ‘Ali.

“Bagaimana pendapatmu, wahai Tuan Yahudi ?” tanya Syuraih pada lelaki itu.

“Bukan ! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku.” Bantah orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat orang itu. Kemudian menoleh pada Khalifah ‘Ali.

“Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu ?” tanyanya lagi pada ‘Ali.

“Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin aku menjualnya di pasar ?” jawab ‘Ali kemudian.

“Aku tidak meragukan apa yang Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu,” kata Syuraih.

“Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi,” kata ‘Ali. Khalifah ‘Ali begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi Khalifah. Ia sangat berharap baju perangnya bisa dimilikinya kembali.

“Pembantuku, Qanbar, akan kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al Hasan, anakku,” sahut Khalifah ‘Ali bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran ucapannya.

“Ya, Amirul Mukminin ! Tidaklah sah kesaksian seorang anak terhadap ayahnya,” kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah.

“Subhanallah ! Kesaksian Al Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima,” ucap ‘Ali mengeluh sedih.

“Betul ! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya,” tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah. Walaupun itu menyangkut Khalifah besar, seorang ayah dari pemuda penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah.

Khalifah ‘Ali menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali.

“Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu,” kata ‘Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya ! Jauh di lubuk hati, Khalifah ‘Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak dengan benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah.

“Ya Amirul Mukminin !” Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah ‘Ali.

“Memang betul ! Baju perang ini milikmu ! Hari ini, aku melihat seorang Hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku. Sungguh ! Aku lihat Islam melakukan kebenaran ! Saat ini juga aku akan menjadi penganut Islam.......,” kata orang itu.

“Pak Hakim yang mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang Amirul Mukminin sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin !” sahut orang Yahudi itu mengakui yang sebenarnya.

Mendengar perkataan orang itu, khalifah ‘Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia.

“Karena kau sudah masuk Islam, maka kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini,“ sahut Khalifah ‘Ali dengan tulus.

Sungguh mengagumkan keputusan yang diberikan Hakim Syuraih !. Dan sangat berbeda dengan apa – apa yang terjadi dengan Para Hakim masa kini. Mereka sangat mudah sekali untuk disuap. Karena memang mereka menjadi Hakim, hanya untuk mencari dan memperbanyak uang saja, bukan untuk menegakkan perkara dengan adil dan benar. Karena prinsip mereka, ‘Siapa yang bisa membayar lebih tinngi, maka dialah yang menang’.


Timbangan Gadis yang Jujur

Khalifah ‘Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah ‘Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah ‘Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik, Khalifah ‘Umar mengintipnya. Tampaklah seorang Ibu dan Anak Perempuannya yang sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya bisa mendapat beberapa kaleng susu hari ini,” kata Anak Perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.” Lanjut Anak Perempuan tersebut.

“Benar Anakku,” kata Ibunya.

“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu yang sangat banyak,” harap Anaknya.

“Hmmm....., sejak Ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata Ibunya.

Anak Perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

“Nak,” bisik Ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air, supaya penghasilan kita cepat bertambah banyak.”

Anak Perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah Ibunya yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan Ibunya.

“Tidak, Bu !” katanya cepat.

“Khalifah melarang keras semua Penjual Susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada Pembeli.

“Ah ! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu ? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu Ibunya kesal.

“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada Pembeli ?”

“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air ! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah ‘Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata Ibunya tetap memaksa.

“Ayolah Nak, mumpung sedang tengah malam. Tak ada yang melihat kita !”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita, serapi apa pun kita menyembunyikannya,” tegas Anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar Anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran Anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata Anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, Ibunya pergi ke kamar. Sedangkan Anak Perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah ‘Umar tersenyum kagum akan kejujuran Anak Perempuan itu.

“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah !” gumam Khalifah ‘Umar. Khalifah ‘Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Khalifah ‘Umar memanggil putranya, ‘Ashim bin ‘Umar. Di ceritakannya tentang Gadis jujur Penjual Susu itu.

“Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah ‘Umar.

“Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai Gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”

‘Ashim bin ‘Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian ‘Ashim melamar Gadis itu. Betapa terkejut Ibu dan Anak Perempuan itu dengan kedatangan Putra Khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

“Tuan, Saya dan Anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami....,” sahut Ibu tua ketakutan.

Putra Khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting Anak Gadisnya.

“Bagaimana mungkin ? Tuan adalah seorang Putra Khalifah , tidak selayaknya menikahi Gadis miskin seperti Anakku ?” tanya Ibu tua itu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajat seseorang disisi Allah,” kata ‘Ashim sambil tersenyum.

“Ya. Dan Aku melihat Anakmu adalah seorang Gadis yang sangat jujur,” kata Khalifah ‘Umar.

Anak gadis itu saling berpandangan dengan Ibunya. Bagaimana Khalifah tahu ? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...,” jelas Khalifah ‘Umar.

Ibu itu bahagia sekali. Khalifah ‘Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah ‘Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai Anak dan Cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin Bangsa Arab.


Utusan Si Pemerah Susu

Abu Bakar r.a setiap hari berkeliling di perkampungan Madinah. Ia terbiasa berkunjung ke rumah – rumah Janda tua dan rumah anak – anak yatim piatu.

“Assalamu’alaikum...,” salamnya di depan pintu rumah seorang Janda tua.

“Wa’alaikummussalam... !” jawab Janda tua. Dibukanya pintu, lalu wajah perempuan tua itu menjadi berseri – seri.

“Oh, Abu Bakar rupanya,” sambutnya gembira.

“Nek, apa mau kuperahkan susu kambingnya ?” tanya Abu Bakar.

“Tidak usah, Tuan...” dengan malu-malu, perempuan tua itu mencoba menolak. Tapi, Abu Bakar mengetahui kalau kedatangannya memang sangat membantu pekerjaan perempuan tua itu.

“Mari Nek, aku bantu memerahkan susunya,” kata Abu Bakar tersenyum.

Abu Bakar pun memerahkan susu kambing sampai semua wadah terpenuhi. Sedangkan perempuan tua itu memandangi Abu Bakar dengan rasa kagum. Abu Bakar sering datang ke rumahnya untuk membantu memerah susu tanpa mengharap balasan. Kalau saja Abu Bakar tidak datang membantu, pasti ia kesusahan.

“Nek, semua wadah sudah terisi...,” kata Abu Bakar setelah menyelesaikan wadah terakhirnya.

“Terima kasih banyak Tuan, atas bantuannya hari ini,” ucap perempuan tua itu.

“Baiklah nek, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.

“Wa’alaikummussalam,” jawab Perempuan Tua itu lagi.

Abu Bakar meninggalkan perempuan tua itu dengan hati gembira. Kemudian, ia singgah di rumah seorang anak yatim.

“Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar. Seorang anak perempuan berlari kecil membukakan pintu.

“Wa’alaikummussalam,” jawabnya. Bukan main senangnya anak itu ketika melihat Abu Bakar datang.

“Tuan datang ! Mari, silakan masuk,” sambutnya penuh hormat.

“Nak, apa ibumu ada di rumah ?” tanya Abu Bakar. Anak itu menggeleng pelan, “Ibu sedang mencari kayu bakar,” kata anak itu.

“Mari, kumasakkan sesuatu untukmu,” sahut Abu Bakar.

Abu Bakar memasak gandum untuk makanan anak yatim itu. Sungguh gembira anak perempuan itu menunggu makanan yang dimasak Abu Bakar. Tidak lama kemudian, makanan itu pun matang. Abu Bakar menyuguhkannya pada anak yatim itu.

“Sekarang, makanlah Nak. Bila ibumu datang, ia tidak perlu memasak lagi,” kata Abu Bakar. Anak itu pun makan dengan lahapnya. Abu Bakar memandangnya sambil tersenyum.

“Baiklah, aku permisi. Insya Allah, besok aku datang lagi memasak gandum untukmu,” kata Abu Bakar seraya mengusap kepala anak yatim itu dengan lembut.

“Terima kasih, Tuan,” ucapnya.

“Berhati-hatilah Nak,, Assalamu’alaikum,” salam Abu Bakar.

“Wa’alaikummussalam,” jawab anak itu.

Abu Bakar berjalan menuju rumah-rumah lainnya untuk membantu memerah susu atau memasakkan gandum sampai sore hari. Abu Bakar suka sekali dengan pekerjaannya itu. Setiap hari dilakukannya terus menerus.

Begitulah Abu Bakar...walaupun ia seorang saudagar yang kaya raya, orang-orang sangat segan dan menghormatinya. Harta kekayaannya banyak sekali yang dipakai untuk perjuangan Agama Islam. Ia juga suka membeli budak-budak yang disiksa karena ketahuan memeluk Islam. Kemudian dimerdekakannya.

Ketika ia terpilih menjadi Khalifah, pekerjaan itu pun masih dilakukannya. Karena kesibukannya banyak menyita waktu, Abu Bakar tidak bisa lagi mengunjungi rumah-rumah Janda tua dan anak yatim.

Suatu siang, seorang gadis kecil membawa wadah di tangannya. Ia akan memerah susu kambing. “Diamlah, aku mau memerah susu,” katanya ketika kambingnya tidak mau diam. Tangannya yang mungil tidak cukup kuat menjinakkan kambing itu.

“Aduh..., kenapa tidak menurut ?” sahut anak yatim itu. Kambingnya malah menghentak-hentakkan kakinya.

“Bu, kemana ya, orang itu ?” tanyanya.

“Orang yang mana ?” ibunya balik bertanya.

“Orang yang suka membantu memerah susu tidak datang lagi, ya ?” sahut anak itu.

“Sudahlah nak, kau harus terbiasa mengerjakannya sendiri,” kata ibunya.

Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum,” terucap salam dari luar.

“Wa’alaikum salam” jawab anak itu.

“Oh ! Tuan datang lagi !” serunya ketika melihat laki-laki yang suka membantunya memerah susu sedang berdiri di depan pintu. Abu Bakar tersenyum. Betapa gembira anak itu, Si Pemerah susu datang lagi. Sudah berapa hari ia tidak datang kerumahnya.

“Nak, mari kuperahkan susu kambingmu,” kata Abu Bakar seperti biasanya. Anak itu bergegas memanggil ibunya.

“Bu ! Si Pemerah Susu itu datang lagi !” serunya girang. “Ia mau membantu kita,” katanya lagi.

Mendengar suara anaknya, ibu itu segera keluar menemui Abu Bakar. “Ya Allah ! Anakku, kau tidak patut berkata seperti itu padanya. Tahukah kamu siapa tamu ini ?” kata ibunya terperanjat.

“Dia Si Pemerah Susu yang suka membantu kita,” jawab anak itu polos.

“Tidak, anakku... Beliau adalah orang yang mulia. Beliaulah Khalifah Abu Bakar,” kata ibunya. “Ya Amirul mukminin, maafkanlah anakku, ia tidak tahu siapa Tuan,” dengan wajah pucat ibunya mohon maaf. Gadis cilik itu tampak ketakutan sekali.

“Tidak apa-apa. Biarkan saja...,” kata Abu Bakar sambil tersenyum.

“Mari kuperahkan,” kata Abu Bakar lagi.
Khalifah Abu Bakar lalu memerahkan susu kambing di rumah anak yatim itu. Kemudian datang ke rumah – rumah lainnya untuk memasakkan gandum.


Malu Ketahuan Anjing



Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin 'Ali berangkat ke kebun yang dijaga oleh seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya. 

Ketika tiba di kebun itu, Husain melihat budaknya sedang duduk - duduk beristirahat di bawah sebatang pohon sambil makan roti. Di samping itu, la juga melihat seekor anjing sedang duduk di hadapan Shafi sedang menikmati makanannya juga. Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi dua. Yang separuh dimakan sendiri sedang separuhnya diberikan kepada anjing. 

Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing - masing, Shafi berdo'a sambil mengangkat kedua tangannya, ”Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Ya Allah, berikanlah maaf dan ampunan-Mu kepadaku dan kepada tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat dan belas kasih-Mu ya Rabbal 'alamin.

Husain menyaksikan semua itu. Mendengar kata - kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat menahan dirinya. la memanggil budaknya “Ya Shafi...” Shafi kaget mendengar panggilan tuannya.

Sambil meloncat dengan gugup ia menjawab, ”Aduh tuanku ! Maafkan aku. Sungguh, aku benar - benar tidak melihatmu”. Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan tuannya. 

Tetapi sambil mendekati Shafi, Husain berkata, ”Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf kepadamu. Sebab aku memasuki kebunmu tanpa izin lebih dahulu".

“Kenapa tuan mengatakan hal demikian,” kata Shofi dengan rikuh. 

“Sudahlah jangan kita persoalkan lagi masalah ini. Hanya aku ingin tahu mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu ?” tanya al Husain penuh penasaran. 

Dengan malu, Shafi menjawab “Maklumlah tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan dan dia turut menjaga kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan ini. Karena itu, menurut pendapatku, rezeki dari tuan, sudah selayaknya kubagi juga dengan anjing ini”. 

Mendengar penjelasan Shafi, Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan suara parau, Husain berkata, ”Wahai Shafi, saat ini juga engkau telah aku bebaskan dari perbudakan. Terimalah dua ribu dinar ini sebagai pemberian dariku dengan penuh keikhlasan". 

Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua ribu dinar tersebut. la seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Namun Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil menyerahkan uang tersebut. 


Gajiku Sebagai Khalifah Masih Terlalu Besar


Saat itu, Abu Bakar Ash Shidiq menjabat sebagai Khalifah. Waktu itu beliau sedang pergi ke pasar untuk berdagang, di tengah jalan Beliau bertemu dengan Umar Bin Khattab, Umar pun bertanya, "Wahai Abu Bakar, engkau sebagai Khalifah, tapi masih juga menyibukkan diri ke pasar untuk berdagang, apakah tidak mengganggu tugasmu sebagai Khalifah yang berkewajiban untuk melayani rakyat (umat) ?"

Abu Bakar kemudian menjawab, "Wahai Umar, aku berdagang ke pasar mencari nafkah untuk keluargaku."

Lalu Umar mendatangi Abu 'Ubaidah sebagai pemegang amanah baitul mal (Bendahara negara) untuk mengusulkan agar Abu Bakar di beri gaji yang diambil dari Kas Negara, agar tidak harus berdagang ke pasar yang bisa mengganggu tugas Abu Bakar sebagai Kepala Negara.

Di kemudian hari istri Abu Bakar berkata pada Beliau "Aku ingin membuat & makan manisan, Jika Engkau mengizinkan, maka aku akan menyisihkan uang belanja dari Engkau untuk keperluan itu." Abu Bakarpun mengizinkan.

Setelah uang terkumpul maka Istri Abu Bakar berkata lagi, "Ini uang hasil aku menyisihkan sebagian uang belanja, Belikan aku keperluan untuk membuat manisan di Pasar."

Jawab Abu Bakar pada istrinya "Kalau begitu berarti gajiku sebagai Khalifah terlalu besar, sehingga engkau masih bisa menyisihkan sebagian uang untuk keinginanmu ini."

Abu Bakar akhirnya memohon agar gajinya sebagai khalifah dipotong sebesar uang yang telah bisa di sisihkan oleh istri Beliau.


Betapa Bahagianya Calon Suamiku Itu ....


Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia merupakan salah seorang Ahlus Suffah yang tinggal di Masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya dengan agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAW menyapa.

"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.

"Maksudku bukan itu. Kenapa selama ini engkau membujang saja ? Apakah engkau tidak ingin menikah ?" tanya Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini adalah seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah ?"

"Asal engkau mau, itu urusan yang mudah !" kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada seorang wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia untuk diberikan lepadamu saudaraku."

Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi perkawinan Arab yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah ?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong ?"

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai Ayah, kenapa sedikit tegang dengan tamu ini ? Bukankah lebih baik disuruh masuk?"

"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai Ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya. Mereka semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah !" kata Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, bukan aku menghalanginya. Tetapi engkau tahu sendiri bahwa anakku tidak mau dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul ?"

Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah."

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah tidak berkata bahwa yang melamar ini adalah Rasulullah, kalau begitu segera saja wahai Ayah, kawinkan aku dengan pemuda ini. Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) diantara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung'". (Qs. An Nur : 51)"

Pada hari itu Zahid merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini ia merasakan bahagia yang tiada tara. Segera setelah itu, Zahid pamit pulang. Sampai di masjid ia langsung bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid ?" tanya Rasulullah.

"Alhamdulillah diterima ya Rasul," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan ?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, 'Ustman, dan 'Abdurrahman bin 'Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini ?"

Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengerti ?".

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "Wahh,, kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus."

Para sahabat menasehatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang ?"

Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin !"

Lalu Zahid menyitir sebuah ayat yang berbunyi, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Qs. At Taubah : 24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."

Lalu Rasulullah membacakan Ayat, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Qs 'Ali Imran : 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al Baqarah : 154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."


Refleksi Hikmah :

Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, "Untuk Allah di atas segalanya" Be A Good Mosleem or Die As Suhada'.


Senin, 14 November 2016

Apa Kata Tulang..........

Sudah berhari-hari orang Yahudi itu berjalan menuju Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar bin Khattab, Amirul Mukminin. Ia banyak mendengar kabar bahwa bahwa Amirul Mukminin seorang yang terkenal bersungguh-sungguh menegakkan keadilan. Jauh-jauh ia datang dari Mesir dengan sebuah harapan, Khalifah mau memperhatikan nasibnya yang tertindas.

Baru ketika matahari condong ke barat, ia tiba di Madinah. Walaupun badannya terasa letih, namun air mukanya tampak berseri. Ia gembira telah sampai di negeri Amirul Mukminin yang aman. Dengan tergopoh-gopoh, orang Yahudi itu memasuki halaman rumah Umar bin Khattab, lalu meminta izin pada prajurit yang sedang berjaga.

“Jangan-jangan, Khalifah tidak mau menerimaku” katanya dipenuhi rasa cemas. Ia menunggu di luar pintu. Prajurit masuk menemui Khalifah Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, ada orang Yahudi ingin menghadap Tuan” sahut Prajurit.

“Bawalah ke hadapanku” perintah Khalifah.

Orang Yahudi pun masuk disertai pengawal. Ada ketenangan di hati orang Yahudi ketika melihat Khalifah yang begitu lembut dan perhatian. Bertambah terperanjat orang Yahudi itu, ternyata Amirul Mukminin menjamunya dengan aneka makanan dan minuman.

“Saat ini kau adalah tamuku, silahkan nikmati jamuannya” sambut Khalifah. 'Rupanya benar apa yang kudengar tentang Khalifah', kata orang Yahudi dalam hati.

Setelah dijamu layaknya tamu dari jauh, Khalifah meminta kepada orang Yahudi untuk menyampaikan maksud kedatangannya. “Ya Amirul Mukminin, saya ini orang miskin” kata orang Yahudi memulai pembicaraan. Amirul Mukminin mendengarkannya dengan penuh perhatian. “Di Mesir, kami punya sebidang tanah” lanjut orang Yahudi.

“Ya, lalu, ada apa ?” tanya Amirul Mukminin.

“Tanah itu satu-satunya milik saya yang sudah lama saya tinggali bersama anak dan istri saya. Tapi Gubernur mau membangun Masjid yang besar di daerah itu. Gubernur akan menggusur tanah dan rumah saya itu” tutur orang Yahudi sedih, matanya berkaca-kaca. “Kami yang sudah miskin ini mau pindah kemana ? Jika semua milik kami digusur oleh Gubernur ? Tolonglah saya yang lemah ini, saya minta keadilan dari Tuan” Orang Yahudi memohon dengan memelas.

“Oh, begitu ya ? Tanah dan rumahmu mau digusur oleh Gubernurku ?” kata Amirul Mukminin mengangguk-angguk.

Khalifah Umar tampak merenung. Ia sedang berpikir keras memecahkan masalah yang dihadapi orang Yahudi itu.

“Kau tidak bermaksud menjual rumah dan tanahmu, hai Yahudi ?” tanya Khalifah.

“Tidak !” orang Yahudi tersebut menggelengkan kepalanya.

“Sebab cuma itulah harta kami. Saya tidak rela melepasnya kepada siapapun” Orang Yahudi tetap pada pendiriannya.

“Baiklah, aku akan membantumu” kata Amirul Mukminin. Hati orang Yahudi itu merasa lega karena Amirul Mukminin mau membantu kesusahannya.

“Hai Yahudi” kata Khalifah kemudian. “Tolong ambilkan tulang di bak sampah itu !” perintahnya.

“Maaf, Tuan menyuruh saya mengambil tulang itu ?” tanya orang Yahudi ragu. Ia tidak mengerti untuk apa tulang yang sudah dibuang harus diambil lagi. Namun, ia menuruti juga perintah Khalifah.

“Ini tulangnya Tuan“ orang Yahudi menyerahkan tulang unta tersebut kepada Khalifah.

Lalu, Khalifah Umar membuat garis lurus dan gambar pedang pada tulang itu.

“Serahkan tulang ini pada Gubernur Mesir !” kata Amirul Mukminin lagi.

Orang Yahudi menatap tulang yang ada. Garis lurus dan gambar pedangnya itu. Ia merasa tidak puas.

Kedatangannya menghadap Khalifah untuk mendapat keadilan, tetapi Khalifah hanya memberinya tulang untuk diserahkan kepada Gubernur.

“Ya Amirul Mukminin, jauh-jauh saya datang minta tuan membereskan masalah saya, tapi tuan malah memberi tulang ini kepada Gubernur ?” sahut orang yahudi.

“Serahkan saja tulang itu !” jawab Khalifah pendek. Orang yahudi tidak membantah lagi. Iapun bertolak ke mesir dengan dipenuhi beribu pertanyaan dikepalanya.

“Aneh, Khalifah Umar menyuruhku untuk memberikan tulang ini pada Gubernur ?” gumamnya sepanjang perjalanan ke negerinya.

Setibanya di mesir, orang yahudi bergegas menuju kediaman Gubernur. “Wahai Tuan Gubernur, saya orang yahudi yang tanahnya akan kau gusur itu“ kata orang Yahudi tersebut.

“Oh kau rupanya, ada apa lagi ?” kata sang Gubernur.

“Saya baru saja menghadap Amirul Mukminin” kata orang yahudi.

“Lantas ada apa ?”

“Saya disuruh memberikan tulang ini” orang Yahudi itupun segera menyerahkan tulang unta ke tangan Gubernur.

Diperiksanya tulang itu baik-baik. Wajah Gubernur berubah pucat. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur di dahinya ketika melihat gambar pada tulang itu. Sebuah garis lurus dan gambar pedang yang dibuat Khalifah Umar sudah membuat hati Gubernur ketakutan bukan main.

“Hai pengawal !” tiba-tiba ia berteriak keras.

“Serahkan tanah orang yahudi ini sekarang juga ! Batalkan rencana menggusur rumah dan tanahnya ! Kita cari tempat lain untuk membangun masjid” kata Gubernur.

Orang Yahudi itupun menjadi heran dibuatnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan perubahan keputusan Gubernur yang akan mengembalikan tanah miliknya. Hanya dengan melihat tulang yang bergambar pedang dan garis lurus dari Khalifah tadi, Gubernur tampak sangat ketakutan.

“Hai Yahudi ! Sekarang juga kukembalikan tanah dan semua milikmu. Tinggallah engkau dan keluargamu disana sesuka hati” sahut Gubernur terbata-bata.

Pesan dalam tulang itu dirasakan Gubernur seakan-akan Khalifah Umar berada dihadapannya dengan wajah yang amat marah. Ya ! Gubernur merasa seolah-olah dicambuk dan ditebas lehernya oleh Amirul Mukminin.

“Tuan Gubernur ada apa sebenarnya ? Apa yang terjadi ? Kenapa tuan tampak ketakutan melihat tulang yang ada garis lurus dan gambar pedang itu ? Padahal Amirul Mukminin tidak mengatakan apa-apa ?” tanya orang Yahudi masih tak mengerti.

“Hai Yahudi, Tahukah engkau ? Sesungguhnya Amirul Mukminin sudah memberi peringatan keras padaku lewat tulang ini” kata Gubernur.

Orang Yahudi tersebut bertambah heran saja. "Sesungguhnya tulang ini membawa sebuah pesan peringatan. Garis lurus, artinya Khalifah Umar memintaku agar aku sungguh-sungguh menegakkan keadilan terhadap siapapun. Dan gambar Pedang, artinya kalau aku tidak berlaku adil, maka Khalifah akan bertindak. Aku harus menjadi penguasa yang adil sebelum aku yang menjadi tulang belulang” jawab Gubernur menceritakan isi pesan yang terkandung dalam tulang unta itu.

Kini orang Yahudi pun mengerti semuanya. Betapa ia sangat kagum kepada Amirul Mukminin yang sungguh-sungguh memperhatikan nasib orang tertindas seperti dirinya meskipun ia bukan dari kaum muslimin.

“Tuan Gubernur, saya sangat kagum pada Amirul Mukminin dan keadilan yang diberikan Pemerintah Islam. Karenanya, saya ingin menjadi orang Muslim. Saat ini saya rela melepaskan tanah itu karena Allah semata”

Tanpa ragu sedikitpun orang Yahudi itu langsung bersyahadat dan merelakan tanahnya untuk didirikan di atasnya sebuah masjid.