Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Aceh Urutan Nomor Wahid di Indonesia Sebagai Penghasil Pria Ganteng

Beberapa waktu lalu, publik sempat dibikin heboh dengan kemunculan berita tentang seorang pria Indonesia bernama Bayu Kumbara yang berhasil mempersunting seorang wanita cantik jelita asal Inggris, bernama Jennifer Brocklehurst.


Teuku Wisnu, artis berdarah Aceh
Usai berita tersebut tersebar luas, ternyata banyak pria ganteng yang tiba-tiba jadi sewot dan merasa ‘nyesek’ abis.
Meski terbilang berpenampilan biasa-biasa saja ternyata Bayu berhasil memikat hati Jennifer yang terbilang cantik.
Fakta Menarik Tentang Pria di Indonesia
Faktanya, berbanggalah para pria di Indonesia karena memiliki kulit yang disebut-sebut berwarna seksi yakni sawo matang. Ternyata ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita-wanita dari luar negeri untuk mencari pasangan (suami) dari Indonesia.
Bahkan beberapa wanita percaya, ada 5 kota di Indonesia yang konon katanya merupakan kota-kota penghasil pria ganteng di Indonesia. Berikut kota-kota tersebut:
1. Aceh
Pria Aceh tak hanya sekadar berwajah ganteng. Aceh terkenal sebagai kota penghasil cowok ganteng dengan ilmu agama yang kuat. Sopan dan berwibawa jadi nilai plus kalau kamu sampai punya pasangan pria dari Aceh.
2. Padang
Banyak cowok-cowok ganteng yang dilahirkan dari kota yang merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat ini.
Bahkan sebagian besar dari mereka berhasil wara-wiri di dunia hiburan tanah air, seperti misalnya Herjunot Ali sampai yang belakangan sering bikin banyak gadis betah berlama-lama nonton televisi, Aliando Syarif.
Kulit kuning langsat khas Indonesia, serta wajah melayu yang kental jadi modal utama untuk eksis di televisi.
3. Manado
Manado selama ini memang dikenal sebagai gudangnya cewek-cewek cantik dengan kesempurnaan fisik yang nggak terbantahkan lagi.
Banyak cowok-cowok yang bahkan rela merantau ke kota di utara pulau Sulawesi ini demi bisa mendapatkan calon istri yang cantik sempurna.
Tak hanya gudangnya wanita cantik, Manado juga pusat lahirnya pria-pria ganteng. Banyak aktor-aktor ganteng dengan kualitas akting mumpuni yang berasal dari Manado. Seperti misalnya Marcellino Lefrandt, Benjamin Joshua, Randy Pangalila dan Chef Juna.
4. Yogyakarta
Jogja kota istimewa dan punya banyak julukan. Dari mulai kota budaya, kota batik, kota gudeg, kota bakpia, kota seni, dan juga kota penghasil cowok-cowok ganteng.
Jogja terkenal dengan pria-pria ganteng dengan sifat lembut, ramah, sopan, serta berwibawa.
5. Bandung
Berbicara tentang kota penuh pesona ini, selama ini Bandung disebut sebagai Paris van Java ini memang terkenal sebagai surganya produk pakaian.
Tak hanya para mojang dan jajakanya saja yang cantik-cantik dan ganteng, mereka pun terbilang sangat modis dalam cara berpakaian, makannya tak heran jika orang Bandung itu disebut kreatif.
Meski begitu, pada kenyataanya semua manusia diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan yang maha dahsyat, pasalnya ketampanan seseorang jika tidak diiringi dengan hati yang bersih serta tindakan yang baik maka dipastikan hanya akan timbul kesombongan yang luar biasa. [Tribunnews]

Jumat, 06 Mei 2016

Ranub Aceh, Lambang Peumulia Jame



MEMULIAKAN tamu dengan menyuguhkan sirih. Memuliakan sahabat lewat tutur kata yang manis. Dua bait sair Aceh itu menggambarkan tentang makna sirih (ranub) dalam adat istiadat Aceh.
Ranub lam Batee
 Hingga Ranup dikreasikan dalam satu tarian khas Aceh-, Ranub lampuan. Tari itu sebagai sumbol pemuliaan terhadap tamu.

Ranup sigapu juga sering kita baca dalam banyak buku yang bermakna sebagai permulaan. Artinya, Ranup menjadi symbol prosesi atau mengawali sebuah kegiatan, Esensi Ranup dalam adat Aceh sebagai sikap menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan hidup yang dilengkapi dalam satu wadah disebut Puan. Dalam manuskrip adat Aceh, perangkat ranub selalu dipergunakan dalam upacara-upacara kebesaran Sultan. “Perkataan hari (raya); pemeriahan arak-arakan raja dari istana sampai Mesjid Bait ur-Rahman. Pedang raja diarak di hadapan Sultan, begitu pula pinggan ranub (puan) dan kantong ranub (bungkus kain). Setelah bersembahyang di belakang tirai (kelambu) di tempat yang dinamakan rajapaksi, Sultan pulang naik gajah upacara.”

Ranup kemudian menjadi perangka adat Aceh. Mulai acara resmi seperti pra dan pasca melahirkan, prosesi peminangan, pernikahan, hajatan sunat, hingga acara penguburan mayat, dan lainnya, Ranub menjadi salah menu wajib adat untuk dihidangkan. Ranub juga menjadi media dalam upacara mengantar anak mengaji untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, Ranub telah menjadi lambang formalitas yang memadukan adat dan budaya dalam interaksi masyarakat Aceh.

Ranup atau disebut piper betle, sejenis tanaman rambat (terna). Daun, batang dan buahnya menjadi obat tradisional ataupun menjadi tumbuhan penyegar. Maka munculnya tradisi makan sirih (ranub). Sebagai ditulis Ibnu Batutah dan Vasco da Gama, masyarakat Timur sejak dulu telah memiliki kebiasaan memakan ranub. Maka dalam setiap suguhan Ranup dalam puan juga diisi pinang, gambir, kapur ranub, cengkeh, tembakau dan disertai pula rampago sebagai alat sebagai pemotongnya. Maka ranub yang awalnya bersifat sederhana menjadi lebih kompleks.

Ranub dalam ranah adat dan budaya Aceh memiliki berbagai makna simbol yaitu; simbol kemuliaan (pemulia jamee), penenang dalam menyatukan pendapat dalam suatu musyawarah (sapeu kheun ngon buet), dan penyambung silaturrahmi sesamanya (meu-uroh). Ranub melambangkan sifat rendah hati dan cinta kasih, Pinang melambangkan baik budi pekertinya dan jujur serta memiliki derajat yang tinggi; Gambir melambangkan keteguhan hati, Kapur melambangkan ketulusan hati, Cengkeh melambangkan keteguhan memegang prinsip, dan Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal.
Tari Ranub Lampuan

Sementara Bate ranup (Puan) yang menjadi wadahnya melambangkan keindahan budi pekerti dan akhlak yang luhur. Wadah tersebut sebagai satu kesatuan yang melambangkan sifat keadatan. Maka ke depan modifikasi kemasan ranub ini perlu diperhatikan, bagaimana anak-anak Aceh tidak asing dengan budayanya dari pemakan ranub kini menjadi pengkomsumsi narkoba dan produk-produk luar untuk pencitraan modern, meskipun di tempat asalnya makanan itu sudah dianggap sebagai makanan jalanan atau makanan sampah
 (acehabad.com) | Sekilas Sejarah & Budaya Atjeh

Kamis, 05 Mei 2016

Inilah Tradisi Khanduri Apam di Aceh

Khanduri Apam dan Kearifan yang Hampir Punah

 Oleh M. Chandra Rizqi(*
Sebagai salah satu tradisi masyarakat Aceh, khanduri apam (kenduri apam) dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan isra’ mi’rajnya Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang dibawa oleh malaikat Jibril hingga sampai Shidratul Muntaha. 
Pada malam 27 Rajab tersebut masyarakat Aceh berkumpul di meunasah (tempat mengasah intelektual masyarakat Aceh yang berada di setiap Kampung/Desa sebelum adanya sekolah modern adopsi dari Belanda), meuseujid (mesjid) atau rumah-rumah untuk mendengarkan riwayat isra’ mi’raj yang di sampaikan oleh Teungku-teungku (cerdik pandai Aceh) dalam bentuk syair prosa.
Tradisi Khanduri Apam
Apam adalah sejenis kue yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Serabi. Orang Aceh sering menyebut bulan Rajab dengan bulan apam, karena pada bulan tersebut terdapat tradisikhanduri apam di setiap rumah, baik secara perorangan ataupun secara bersama. Mereka mengadakan upacara memasak apam (toet Apam) dan membuat kue apam bersama-sama. Apam yang terbuat dari bahan tepung beras dan santan tersebut dibentuk bulat seperti piring kecil dan dibawa sebagai kenduri ke mesjid dan meunasah. Kue apam ditumpuk diatas piring disertai sebuah mangkok seurawa (saus) yang terdiri dari santan, gula, dan telur dikocok.
 

Hasil gambar untuk sejarah khanduri apam
Kaum ibu membuat Apam ala modern
Selain sebagai makanan khas pada perayaan Rajab, kue apam secara mitos dipercaya oleh masyarakat Aceh dapat berpengaruh terhadap nasib seseorang yang telah meninggal. Maka selain untuk dibagi pada kenduri dalam bulan ke 7 dari tahun Hijrah, kue apam juga dapat ditemuai pada kenduru hari ke tujuh sesudah orang meninggal, dan setelah terjadinya gempa bumi. Peristiwa gempa bumi bagi oarang Aceh dipercaya dapat mengocok sisa-sisa mayat di dalam Kuburan.


Mitos yang kuat tentang khanduri apam juga diperkuat oleh Snouck Hurgronje, seorang penjajah Belanda yang pernah mempelajari Aceh. Dalam catatan Seunuet (panggilan untuk Snouck yang berarti cambuk, setelah dia diketahui hanya mempelajari Aceh untuk menjajah), khanduri apam menyimpan kisah mitos tentang seorang Aceh yang ingin mengetahui nasib orang di dalam kubur dengan cara membenamkan dirinya di dalamnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa apa saja saat di alam kubur, terutama tentang pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nankir.  
Hasil gambar untuk sejarah khanduri apam
Toet Apam ngon on 'u
Seunuet juga mengisahkan bahwa dalam cerita itu seorang Aceh yang melakukan pengujian tersebut sempat diperiksa oleh malaikat mengenai agama dan amalnya, namun karena banyaknya kekurangan maka orang tersebut dipukul dengan pentungan besi. Pukulan tersebut tidak dapat mengenainya, sebab ada sesuatu yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas dalam kegelapan dan mempunyai bentuk seperti bulan seolah-olah melindunginya dari pukulan, hingga akhirnya ia berhasil keluar dari tempatnya yang sempit (kuburan) dan segera menemui anggota keluarganya yang terkejut melihatnya kembali. Beberapa saat setelah itu diapun bercerita mengenai pengalamannya pada keluarganya, saat itulah dia mengetahui bahwa sebuah benda perisai mirip bulan yang telah menolongnya sewaktu menghadapi pukulan dari kentongan tadi adalah sebagai wujud dari apam, makanan yang dibuatkan keluarganya saat dia sedang menguji dirinya dalam tanah.
Hasil gambar untuk sejarah khanduri apam
Khanduri pajoh Apam
Demikianlah bahwa kue apam mempunyai pengaruh yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh, baik terhadap nasib mereka yang telah meninggal maupun bagi mereka yang masih hidup. Karena selain dipercaya dapat membantu orang yang telah tiada juga dapat membantu orang-orang yang kekurangan, serta dapat menguatkan tali silaturrahmi sesama umat Islam. Oleh sebab itulah dikatakan bahwa asal mulanya orang aceh membuat kue apam dan membagi-bagikannya pada hari-hari tertentu adalah sebuah hal yang harus dilakukan ulang.
 

Namun pada saat ini, telah jarang kita temui kenduri apam dilakukan oleh masyarakat Aceh. Hal ini dipengaruhi oleh sedikitnya pengetahuan dan kesadaran tentang betapa pentingnya sebuah budaya yang di dalamnya menyimpan nilai-nilai arif peninggalan endatu (nenek moyang) untuk dilestarikan. Kalaupun acara kenduri apam itu dilakukan saat ini, nuansa politis sangatlah kuat, dan pastinya kenduri tersebut sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan muatan pada zaman dulu.* acehmediart.com


(* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta, aktif di Seniman Perantauan Atjeh (SePAt).

Subhanallah! Pemuda Aceh Persunting Gadis Cantik Suriah dengan Mahar Hafalan 500 Hadist

Seorang pemuda Aceh bernama Munawar Juanan Raden, Staff KBRI Damaskus menikahi warga suriah Douha Muawiyah Kharraji, dengan mahar hafalan 500 hadits Rasulullah pada hari Selasa, tanggal 3 Mei 2016. 


Resepsi dihadiri Duta Besar RI Damaskus, seluruh staf KBRI, para mahasiswa, keluarga dari masing-masing kedua mempelai, masyarakat Indonesia, sejumlah warga Suriah, sejumlah warga asing non-Suriah.


Mahar hafalan Hadits dan hafalan Alquran menjadi tren bagi generasi Muslim saat ini.





 

Senin, 25 April 2016

Inilah 54 Nama Permainan Tradisional di Aceh yang Sebagiannya Hilang Dimakan Zaman

Banda Aceh | Sebanyak 54 nama olahraga dan permainan tradisional yang ada di Provinsi Aceh dirangkum oleh Drs. Asli Kesuma, salah seorang narasumber pada seminar Permainan Rakyat yang digelar di Banda Aceh, 3-4 September 2012 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh.


Peupok Gaseng
Ke-54 nama-nama olahraga dan permainan rakyat yang tumbuh dari 7 suku bangsa di Aceh (Aceh pesisir, Gayo, Alas, Melayu Tamiang, Jamee, Simeulue, dan Kluet) tersebut antara lain :


  1. Meuen Galah
  2. Geulayang Teunang
  3. Silat Pelintau
  4. Gatok (Katok)
  5. Lomba Perahu Tradisional
  6. Geudeue-Geudeue
  7. Panca
  8. Gasing
  9. Sipak Raga
  10. Galumbang
  11. Geunteut (Engrang)
  12. Patok Lele
  13. Sepangkal
  14. King-kingan
  15. Tempi
  16. Auh-auh
  17. Bebilun
  18. Cebunih
  19. Gegeli
  20. Merimueng-rimueng
  21. Menduwo
  22. Meukrueng-krueng
  23. Somsom Batee
  24. Meuheneb
  25. Nebang Kayu
  26. Leteb
  27. Lehong
  28. Daboih
  29. Nandong
  30. Jejorosen
  31. Berenep Empan
  32. Berkekuren
  33. Pacu Kude
  34. Bebaningen
  35. Kededes
  36. Asak-asakan
  37. Lelumpeten
  38. Kude Mandi
  39. Pangkal
  40. Dukung
  41. Gedung Skupang
  42. Pak Kemiri
  43. Terompah Bambu dan batok
  44. Beciken
  45. Rangkam
  46. Pepilo
  47. Cek Meng
  48. Cengkerek
  49. Teng-teng Iyek
  50. Berkekucingen
  51. Itik-itiken
  52. Merah Mege
  53. Inen Maskerning
  54. Atu Belah
Patok Lele










Beudee Trieng
Asli Kesuma meyakini masih banyak olahraga dan permainan rakyat yang belum terinventaris dan kepada peserta dia berharap agar segera melakukan pendataan sebelum hilang tergerus zaman modern.
Selain itu, dia juga menyatakan hanya sedikit dari olahraga dan permainan tersebut yang sudah mempunyai catatan tentang standar operasinal (SOP). “Mari kita data kembali nama-nama permainan rakyat tersebut dan melakukan pencatatan tentang cara atau aturan teknis permainannya,” himbau Asli Kesuma.
Menanggapi data tersebut, secara terpisah salah seorang peserta seminar yang menjabat sebagai Ketua Harian Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Aceh Tengah menyatakan sudah melakukan pendataan permainan rakyat Gayo namun kedepan akan lebih intensif lagi.
“Kita sudah melakukan pendataan namun masih banyak yang belum terdata. Dalam waktu dekat ini kita akan data kembali permainan tradisional rakyat Gayo dan kita berharap mendapat dukungan dari semua pihak agar data tersebut dapat dibukukan dan dijadikan sebagai muatan lokal bagi siswa di Gayo,” ujar Khalisuddin.
Pengakuannya, FORMI Aceh Tengah yang terbentuk setahun lalu bekerjasama Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan sejumlah pihak termasuk media Lintas Gayo sudah melakukan berbagai upaya melestarikan permainan rakyat Gayo seperti menggelar lomba Gasing di Pegasing Aceh Tengah, pertunjukkan Ketibong di sungai Peusangan dan tahun 2012 ini dalam menyongsong Festival Danau Lut Tawar 2013 direncanakan akan menggelar sejumlah lomba permainan tradisional
“Dalam pendataan dan acara perlombaan permainan rakyat nantinya, kami berharap dukungan masyarakat Gayo untuk berpartisifasi serta memberikan informasi sebanyak-banyak,” harap Khalisuddin. (Supri Ariu) | lintasgayo.com
Geulayang Tunang











 





Tarek Cituk


Apit Awee


Meu'en cen

Beudee Thub