Tampilkan postingan dengan label Tabi'in. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabi'in. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Perempuan yang selalu Berbicara dengan Al Qur

Berkata Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :

Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah SAW. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dIbuat dari bulu. Ia adalah seorang Ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.

Setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Al Mubarak, Wanita Tua itu selau menjawab dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur'an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh."

Wanita Tua : "Salaamun qoulammin robbirrohiim." (QS. Yaasin : 58) ("Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang")

Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini ?"

Wanita Tua : "Wa man yudhlilillahu falaa haadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186) ("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")

Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia sedang tersesat.

Abdullah : "Kemana anda hendak pergi ?"

Wanita Tua : "Subhaanalladzia asraa bi'abdihia lailan minal Masjidil haraami ilal Masjidil aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba Nya di waktu malam dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsa")

Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke Masjid Al Aqsa.

Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini ?"

Wanita Tua : "Tsalaatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")

Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan ?"

Wanita Tua : "Huwa yuth'imunii wa yasqiin" (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah Pemberi aku makan dan minum")

Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu ?"

Wanita Tua : "Faillam tajiduu maa-an fatayammamuu sha'iidan thoyyiban" (QS. Al-Maidah : 6) ("Bila tidak ada air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih")

Abdullah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya ?"

Wanita Tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil" (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")

Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa ?"

Wanita Tua : "Waman tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-Baqarah : 158) ("Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui")

Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika safar ?"

Wanita Tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : 184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")

Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya ?"

Wanita Tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiIbun 'atiid." (QS. Qaf : 18) ("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib 'Atid"

Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang mAnakah, hingga bersikap seperti itu ?"

Wanita Tua : "Walaa taqfu maa laisa bihia 'ilmun. Inna sam'a wal bashooro wal fuaada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas'uula." (QS. Al-Isra' : 36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")

Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."

Wanita Tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92) ("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")

Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."

Wanita Tua : "Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya"). Lalu Wanita Tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :"Qul lil mu'miniina yaghdudhna min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")

Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap : "Wa maa 'ashoobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")

Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."

Wanita Tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman") Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan Wanita Tua itu naik.

Abdullah : "Silahkan naik sekarang."

Wanita Tua : "Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolIbuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada Tuhan kami")

Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang.

Wanita itu berkata : "Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19) ("SederhAnakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu") Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, 

Wanita Tua itu berucap : "Faqraa-uu maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20) ("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")

Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."

Wanita Tua : "Wa maa yadzdzakkaru illaa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269) ("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya : "Apakah anda mempunyai suami ?"

Wanita Tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101) ("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")

Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"

Wanita Tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46) ("Adapun harta dan Anak-Anak adalah perhiasan hidup di dunia")

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai Anak.

Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini ?"

Wanita Tua : "Wa 'alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16) ("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama Wanita Tua ini saya menuju perkemahan.

Abdullah : "Adakah orang yang anda kenal atau keluarga dalam kemah ini ?"

Wanita Tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi")

"Wakallamahu muusaa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ("Dan Allah berkata-kata kepada Musa")

"Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah Anak-Anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga Anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita Tua : "Fab'atsuu ahadakum bi warikikum hadzihii ilal madiinati falyandzur ayyuhaa azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19) ("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")

Maka salah seorang dari tiga Anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu

Perempuan tua itu berkata : "Kuluu wasyrobuu hanii'an bimaa aslaftum fil ayyaamil khooliyah" (QS. Al-Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu")

Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah Perempuan ini sebenarnya."

Ketiga Anak muda ini secara serempak berkata : "Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun
Beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, karena khawatir salah berbicara."

Maha Suci Zat Yang Maha Kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakiNya. Akhirnya saya pun berucap : "Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar")

[Diambil dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168]


Si Burung Pincang

Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, orang itu bernama Al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishaq.

Pada suatu hari, Al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama Al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang dituju sangat jauh tempatnya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di Masjid langsung bertanya kepada Al-Balkhi, sahabatnya. "Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat ?"

"Dalam perjalanan", jawab Al-Balkhi, "Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan".

"Keanehan apa yang kamu maksud ?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab Al-Balkhi menceritakan, "Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".

"Tidak lama kemudian", lanjut Al-Balkhi, "Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".

"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu ?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.

"Maka aku pun berkesimpulan", jawab Al-Balkhi seraya bergumam, "Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang, buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga".

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu ? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu ? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain ? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi ? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja, apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah ?"

Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "Wahai Abu Ishaq, ternyata engkaulah guru kami yang baik".

Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

Refleksi Hikmah :

Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma'dikarib -radhiyallahu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud -'alaihis salam- makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).


Hasan Al Bashri Bermimpi


Suatu ketika, ada sebuah ketegangan antara Hasan Al Bashri dan Ibnu Sirin. Keduanya tak mau saling menyapa. Bahkan, etiap kali mendengar orang lain menyambut nama Ibnu Sirin, Hasan Al Bashri merasa tak suka, "Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku," ujarnya.

Suatu malam Hasan Al Bashri bermimpi sesuatu yang aneh, Ia seolah-olah sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu. Tiba-tiba ia ingat bahwa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai, merupakan orang yang pandai menafsirkan mimpi.

Merasa malu dan gengsi bertemu sendiri, Ia meminta tolong seorang teman dekatnya untuk menemui Ibnu Sirin, "Temui Ibnu Sirin, dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalami," pesannya. 

Teman dekat Hasan Al Bashri itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata, "Bilang pada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani suruh ia datang sendiri kemari." 

Mendengar laporan yang disampaikan temannya ini, Hasan Al Bashri kesal. la bingung, dan merasa tertantang. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin. la tidak peduli dengan rasa malu atau gengsinya. 

"Antarkan aku ke sana," katanya. Begitu melihat kedatangan Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin menyambutnya dengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, masing-masing lalu mengambil tempat duduk yang agak berjauhan. 

"Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja ! Aku bingung memikirkan dan menafsirkan mimpiku," kata Hasan Al Bashri. Lalu, ia menuturkan sekilas tentang mimpinya. 

"Jangan bingung," kata Ibnu Sirin. "Telanjang dalam mimpimu itu adalah Ketelanjangan dunia. Artinya Anda sama sekali tidak bergantung padanya karena Anda memang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Anda telah melihat dengan jelas keadaan yang sebenarnya. Sedangkan sebatang tongkat yang Anda buat itu adalah lambang hikmah yang Anda katakan, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang." 

Sesaat, Hasan Al Bashri terkesima. la kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli penafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya. 

"Tetapi bagaimana Anda tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu ?" tanya Hasan Al Bashri kemudian dengan rasa penasaran.

"Ketika temanmu menceritakan mimpi tersebut kepadaku, aku berpikir menurutku hanya engkau yang pantas mengalaminya," jawab lbnu Sirin singkat dan santai.


Refleksi Hikmah :

Kadang memang kita akan mengalami kecekcokan diantara kita dan orang lain. Tapi, dengan kecekcokan tersebut jangan sampai membuat kita malah berlarut-larut dalam sebuah kubang kesia-siaan yang akhirnya malah membuat kita terhmabat dan terhalang dengan pintu kebaikan yang berada di depan mata kita.


Matinya Seorang Harun Ar Rasyid


Suatu hari Harun Ar Rasyid pergi berburu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang bernama Buhlul.

Harun berkata, "Berilah aku nasehat, wahai Buhlul !".

Lalu lelaki itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, dimanakah bapak dan kakek-kakekmu, dari sejak Rasulullah hingga bapakmu ?".

Harun menjawab, "Semuanya telah mati".

"Dimana istana mereka ?" tanya Buhlul.

"Itu istana mereka" jawab Harun.

"Lalu dimana kuburan mereka ?".

"Ini. Disini kuburan mereka" jawab Harun.

Buhlul berkata, "Disitu istana mereka, dan disini kuburan mereka. Bukankah istana itu sedikit pun tidak memberi manfaat bagi mereka, sekarang ?".

"Kamu benar. Tambahlah nasehatmu, wahai Buhlul !" kata Harun.

"Wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kekuasaan atas perbendaharaan Kisra dan diberi umur panjang. Lalu apa yang bisa kau perbuat ? Bukankah kuburan adalah terminal akhir bagi setiap yang hidup, kemudian engkau akan disidang tentang berbagai maalah ?".

"Tentu", kata Harun.

Setelah itu Harun pulang dan jatuh sakit. Setelah beberapa hari menderita sakit, sampailah ajal menjemputnya. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia berteriak kepada punggawanya, "Kumpulkanlah semua tentaraku". Maka datanglah mereka ke hadapan harun, lengkap dengan pedang dan perisai. Begitu banyak, sehingga tak ada yang tahu jumlahnya selain Allah. Seluruhnya berada di bawah komando Harun. Melihat mereka, Harun menangis dan berkata, "Wahai Dzat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hamba-Mu yang telah kehilangan kekuasaan ini". Tangisan itu tak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya.


Refleksi Hikmah :

Itulah sepenggal kisah, yang dengan kisah di atas Penulis hendak menyadarkan kepada para pembaca, bahwa kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap. Tak ada yang bisa menolak, bahkan raja yang punya banyak bala tentara sekalipun. Sang Khalifah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas itu, ternyata akhirnya tinggal di lahat yang sempit. Tak ada anak, tak ada istri, tak ada menteri, tak ada kawan minum, tak ada kasur, tak ada makanan. Harta dan kekuasaannya tak berguna lagi baginya.

Sumber : Buku, Malam Pertama di Alam Kubur


Senin, 14 November 2016

Kepatuhan Abu Hanifah

Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. ‘Ulama Ahli Hukum Islam itu pun di penjara. Sang Penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya.

Dalam penjara, ‘Ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih sebenarnya bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan Ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada Ibunya.

Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama Ibunya kembali.

“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada ?” tanya Abu Hanifah.

“Alhamdulillah......Ibu baik-baik saja,”  jawab Ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.

Abu Hanifah kembali menekuni ilmu Agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi Ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang Anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukanlah seorang ‘Ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.

Suatu hari, Ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Tetapi, Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.

“Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap Ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al Qas,” katanya lagi.

Zar’ah Al Qas adalah seorang ‘Ulama yang pernah belajar ilmu Hukum Islam kepada Abu Hanifah.

“Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,” pinta Ibunya.

Mendengar ucapan Ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar Ibunya ke rumah Zar’ah Al Qas.

“Saudaraku Zar’ah Al Qas, Ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al Qas.

Zar’ah Al Qas terheran-heran, kenapa Ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu ? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ‘Ulama ? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.

“Tuan, Anda kan seorang ‘Ulama besar ? kenapa Anda harus datang kepadaku ?” tanya Zar’ah Al Qas.

“Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah.

Zar’ah tersenyum, ”Baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al Qas akhirnya.

“Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.

Lalu Zar’ah Al Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.

“Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata Ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.

Dua hari kemudian, Ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis ‘Umar bin Zar. Lagi – lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah Ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan Ibunya dengan mudah.

‘Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan Ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.

“Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya ?” kata ‘Umar bin Zar.

Abu Hanifah tetap meminta fatwa ‘Umar bin Zar sesuai permintaan Ibunya. “Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah.

‘Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada Ibunya.

“Baiklah, kalau begitu apa jawaban anda atas pertanyaan Ibu Anda ?”

Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan. “Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada Ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,” ucap ‘Umar bin Zar sambil tersenyum.

Abu Hanifah pulang membawa fatwa ‘Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan ‘Umar bin Zar.

Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah Ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun Beliau seorang ‘Ulama yang sangat pintar.


Minggu, 13 November 2016

Ketawadhu dan Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Aku belajar lima masalah dalam ibadah haji dari seorang Pencukur rambut.”

Berikut ini kisahnya :

Setelah aku menyelesaikan manasik haji, aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur rambutku.

Aku bertanya kepada tukang cukur, “Berapa ongkos mencukur rambut ?”

Tukang cukur itu menjawab, “Ini adalah ibadah dan ibadah tidak mensyaratkan apa pun. Duduklah !” Aku pun duduk dan membelakangi kiblat.

Dia berkata, “Hadapkan wajahmu ke arah kiblat !”

Ku berikan kepalaku sebelah kiri untuk dicukur terlebih dahulu. Dia kembali berkata, “Putar kepalamu ke arah kanan.”

Maka aku pun memutar kepalaku ke arah kanan. Dia langsung mencukur rambutku dan aku diam saja. Dia berkata lagi, “Bacalah takbir (Allahu akbar) !”

Aku pun terus membaca takbir sampai dia selesai mencukur. Ketika aku berdiri dia berkata, “Mau ke mana kamu ?”

Aku menjawab, “Aku ingin meneruskan perjalananku”

Dia berkata, “Shalatlah dua raka’at dulu, setelah itu pergilah”

Aku sangat terkejut dengan perkataan tukang cukur itu dari awal dia mencukur rambutku, lalu aku bertanya kepadanya, ”Dari mana kamu belajar semua ini ?”

Dia berkata, “Aku pernah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabbah melakukan ini”


Di antara ketawadhu’an Imam Abu Hanifah yang lain adalah ketika Abu Hanifah melewati anak-anak yang sedang bermain di jalan, dia berkata kepada salah seorang dari mereka, “Wahai anakku, hati-hati, nanti jatuh ke tanah”

Anak-anak itu membalas, “Engkaulah yang seharusnya berhati-hati, agar jangan sampai jatuh, karena terperosoknya orang 'alim adalah terperosoknya alam.” (Kesalahannya menyebabkan kesalahan orang-orang).

Abu Hanifah berkata, “Demi Allah, sejak saat itu aku tidak mengeluarkan fatwa, kecuali setelah berdiskusi dengan murid-muridku selama 40 hari.”


Wara Menguntungkan

Abdullah ibn Al Mubarak suatu hari berkata, "Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia."

Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang 'alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambutnya hingga hampir-hampir saja mereka saling bunuh membunuh karena berdesak-desakan.

Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, "Siapakah orang yang datang ke kota kita ini ?"

"Ia adalah salah seorang 'Ulama Islam," jawab pelayannya.

Ia kemudian berkata kepada anaknya, "Perhatikanlah, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Raja yang satu ini tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya. Tetapi, mereka mendatanginya dengan sukarela."

Abdullah ibn Al Mubarak sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`. Kewara'annya ini akhirnya membuahkan anak yang shaleh. Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun.

"Mubarak, petikkan aku anggur yang manis," perintah tuannya.

Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya.

"Mubarak, anggur ini masam rasanya, tolong carikan yang manis !" kata tuannya setelah memakan anggur itu.

Mubarak segera pergi, tak lama kemudian ia kembali dengan anggur lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

"Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur masam, padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini," tegur tuannya dengan perasaan kesal.

"Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang masam, karena kamu mempekerjakan aku di kebun ini hanya sebagai penjaga. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dari yang masam ?" jawabnya.

Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah. Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya.

Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, "Aku telah menemukan calon suami anak kita."

"Siapa dia ?" tanya istrinya.

"Mubarak, budak yang menjaga kebun."

"Bagaimana kamu ini ?! Masa puteri kita hendak kamu nikahkan dengan seorang budak hitam yang tebal bibirnya. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan budak itu."

"Coba saja sampaikan maksudku ini kepadanya, aku lihat budak itu sangat wara' dan takut kepada Allah."

Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, "Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang budak bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu."

"Ibu, jika kalian berdua telah setuju, aku pun setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku ? Lalu mengapa aku harus tidak setuju ?"

Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan ini, lahirlah Abdullah bin Mubarak.

Jangan sekali-kali berpikir bahwa orang yang sempurna adalah orang yang mengenakan imamah terbaik dan pakaian mewah. Akan tetapi orang yang sempurna adalah yang menjauhi maksiat, beramal shaleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan.