Minggu, 24 Juli 2016

Mujahidin Seuramoe Mekkah Siap Bertindak, Jika Konser Shella On7 Tak dibatalkan di Banda Aceh

Lecehkan Ulama Dayah, Mujahidin SEURAMOE MEKKAH Siap Gempur Konser Shella On7
#Panitia Lawan Ulama Dayah, Waled Seulimuem: "Tidak Ada Alasan, Konser Wajib dibatalkan!
Wa qul ja'al‑haqqu wa zahaq‑al‑batil, innal batila kana zahuqa
Wa qul ja'al‑haqqu wa zahaq‑al‑batil, innal batila kana zahuqa
Wa qul ja'al‑haqqu wa zahaq‑al‑batil, innal batila kana zahuqa

 
(SeuramoeMekkahNews-Information Office).

Banda Aceh | Masyarakat Aceh Darussalam sedang berduka karena dua lampu penerangnya meninggal dunia, Berbeda apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh yang tiap hari berkoar-koar Kota Madani, Namun kenyataan jauh berbeda apa yang seharusnyan diimpikan.

Bukannya berduka cita, pada 30 Juli 2016 mendantang kota Banda Aceh siap menyabut Band asal ibu kota yaitu Sheila on 7 dengan berhura-hura diatas meninggalnya Ulama Kharismatik Aceh Darussalam yang tidak memberi faedahnya sama sekali.

Namun agenda Konser yang tidak sesuai dengan adat istiadat Aceh Darussalam dan Syariat Islam tersebut sudah ada pertemuan antara ulama Dayah Aceh Darussalam, Front Pembela Islam (FPI) Aceh Darussalam, Ormas, Kapolresta Banda Aceh dan pantia konser di Dayah Abi Lampisang pada Minggu, 24/07/2016, ulama Dayah Aceh menolak untuk diadakannya konser tersebut, Namun pihak panitia tetap keras kepala akan mengadakan konser berdalih tiket sudah dijual, hingga saat ini belum ada titik temu atas izin konser tersebut.

Menanggapi pernyataan tersebut ulama Dayah Aceh Waled Husaini atau dikenal dengan Waled Seulimuem mengatakan "Tidak ada alasan, Konser WAJIB dibatalkan". tegasnya.

Sementara penasehat Mujahidin Seuramoe Mekkah mengatakan "Jika dalam beberapa hari ini tidak ada keputusan terkait pembatalan izin konser, maka kami pada hari H insya Allah, Mujahidin Seuramoe Mekkah akan bertolak ke Banda Aceh untuk menggempur konser tersebut, kami siap melawan siapa saja yang membela kebatilan" tutup Abu Zubair Al Ashy. SEBARKAN !!!!

(TIM Intelijen Seuramoe Mekkah- Military Media).

Muslim POSO Sudah Habis Dibantai Kristen, Kalau Tidak Dibantu Santoso

Ini dia pendapat warga Poso soal banyaknya umat Muslim Poso saat menghadiri pemakaman Santoso Abu Wardah" Ribuan masyarakat Poso menghadiri pemakaman saudara kami SANTOSO."Jika tidak dibantu Santoso atau Abu Wardah saat Poso dibantai Kristen, bisa jadi sudah tamat sejarah umat Islam di Poso, tinggal 0%," jelas Rahmat.
Ribuan muslim Poso menghadiri pemakaman Santoso

Rahmat menulis, "Buat negara yang katanya penegak hukum,tengok dan rasakanlah penderitaan muslim Poso selama ini. Jika di zaman penjajahan, mereka yang berjuang mempertahankan indonesia disebut ekstrimis/teroris, kematian mereka dipuja masyarakat dan dilabeli syuhada/pahlawan."

"Mari kita cermati kejadian barusan di Poso, media/aparat meemberitakan mereka adalah teroris/ekstrimis. Dan apa yang terjadi di lapangan saat pemakaman? Ribuan masyarakat, dari anak-anak sampai tua renta mengiringi dan mengelukan serta mendoakan mereka," ujar Rahmat.

Ada apa sebenarnya dengan hukum di Poso?

Ada apa dengan HAM di Poso selama ini?

"Selesaikanlah ketimpangan hukum yang terjadi selama ini di Poso. Jangan terus dan terus meregenarasi dendam masyarakat Poso," tambahnya.

"Mari kita menganalisa dengan bijak, jangan asal nyeleneh ini itu tentang mereka, 16 tahun Poso kota kecil yang ramai dijual. ALLAHU AKBAR," tutupnya. 

Sumber : voa-islam

Minggu, 17 Juli 2016

Turki dan Amerika Serikat Tegang, Setelah Kudeta Gagal

ANKARA | Amerika Serikat dan Turki jual-beli kalimat kasar pada Sabtu, 16 Juli 2016, menyusul gagalnya kudeta militer yang berlangsung pada Jumat dinihari, 15 Juli 2016, waktu setempat. Selain itu, misi serangan udara Amerika terhadap basis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melalui pangkalan militer Turki dilarang.

Juru bicara Pentagon, Peter Cook, membenarkan bahwa pasukan tempurnya dilarang terbang dari pangkalan udara Incirlik, Turki selatan, dekat perbatasan Suriah. Cook juga mengamini kabar bahwa Turki menghentikan seluruh penerbangan militer melalui pangkalan tersebut.
"Termasuk menerbangkan jet tempur AS," ucapnya sebagaimana dilaporkan Fox News.
Pentagon mengatakan negaranya mencoba meminta izin kepada otoritas Turki agar jet perangnya bisa beroperasi melalui pangkalan militer di Incirlik, sebab misi operasi tersebut sangat bermakna.
Pendukung Presiden Tayyip Erdogan menghadang tank militer di  Istanbul, Turki, 16 Juli 2016.
Dari Ankara diperoleh informasi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Fethullah Gulen yang sekarang berada di Amerika berada di balik kudeta. Erdogan meminta Gulen segera diekstradisi dari Amerika, setidaknya bisa diadili di sana atau di Turki.
Gulen yang sekarang tinggal di Pennsylvania menolak tudingan terlibat dalam aksi makar militer Jumat lalu. Bahkan, menurut laporan Al Jazeera, dia mengutuk kudeta tersebut.[]
 
Sumber: Tempo
Baca: 

Inilah Catatan Panjang Sejarah Kudeta di Turki Sepanjang Masa

Kudeta bukan hal baru bagi Turki. Sebab, sejarah negara yang wilayahnya membentang di Eropa dan Asia itu memang sudah sering dilanda kudeta.
Hingga kini, tercatat sudah enam kali kudeta terjadi di Turki. Kudeta- pertama terjadi pada 1960, sedangkan yang terakhir adalah 2016.

Recep Tayyeb Erdogan, Presiden Turki
Berikut ini adalah catatan tentang kudeta yang pernah terjadi di Turki:
1960: Pada Mei 1960, militer Turki menahan seluruh anggota Partai Demokrat yang kala itu memerintah. Tidak sekadar menangkap, kala itu militer di negara yang didirikan Mustafa Kemal Attaturk itu juga mengadili anggota Partai Demokrat.
1961: Pada 1961 militer Turki pernah menggulingkan Perdana Menteri Adnan Menderes. Militer lantas menggantung Adnan bersama dengan menteri luar negeri dan menteri keuangannya.
1971: Hanya berselang sepuluh tahun setelah kudeta 1961, militer Turki kembali membubarkan pemerintahan. Pada 1971, angkatan bersenjata di negeri yang beribu kota di Ankara itu memaksa Suleyman Demirel mundur dari posisi perdana menteri.
1980: Para jenderal di Turki melakukan intervensi besar-besaran di kancah politik ketika terjadi bentrok antara kelompok mahasiswa Sayap Kanan dan Sayap Kiri yang menggiring negeri transkontinental itu ke jurang perang saudara. Kala itu pemimpin junta militer, Kenan Evren mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden, sekaligus menulis ulang konstitusi yang menjamin kekuasaan angkatan bersenjata.
1997: Pada awal 1997, militer Turki memaksa pemimpin koalisi kelompok Islam yang sedang berkuasa, Nekmettin Erbakan untuk mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan. Kala itu Erbakan dituding memimpin Turki dengan aturan agama. Namun, militer tidak mengambil aluh kekuasaan, tapi mendorong para politisi sekuler untuk membentuk pemerintahan baru.
2016: Pada 15 Juli 2016, militer Turki kembali melakukan kudeta. Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut kudeta itu gagal dan dirinya tetap menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata Turki.

Lintas Sejarah Hubungan Aceh dengan Turki

Hubungan Aceh dan Negeri Turki dalam Catatan Sejarah

 

TURKI tidaklah asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Aceh pada saat ini. Ikatan sejarah masa lalu yang telah mendarah daging khususnya bagi masyarakat Aceh. Gerakan-gerakan pemuda Turki masa lalu juga telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Hubungan Aceh dan Turki Usmani pada masa lalu sangatlah erat, hingga bisa dikatakan seperti hubungan adik dan kakak. 
Dinasti Tukey Utsmaniyah

Beberapa sumber baik yang berasal dari hikayat-hikayat Aceh seperti Hikayat Aceh, Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dan juga tulisan Nuruddin Ar-Raniry yakni Bustanu’s-salatin menunjukkan bahwa  Kerajaan Turki Usmani dahulu telah membantu Kerajaan Aceh dalam memerangi bangsa Portugis
 
 
Dalam Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dikisahkan tentang kemurahan hati Sultan Kerajaan Turki Usmani yang mengirimkan ahli-ahlinya untuk mengajarkan seni berperang, membangun Kerajaan Aceh, juga menghadiahkan beberapa meriam sebagai alat bantu perang yang terkenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Dinamakan Meriam Lada Sicupak karena jauh dan rumitnya perjalanan dari daratan Aceh ke Kerajaan Turki, yang mengakibatkan utusan Kerajaan Aceh tersesat sampai memakan waktu tiga tahun untuk sampai di daratan Turki. Mereka terpaksa menjual padi, beras, dan lada-hadiah untuk Raja Turki yang masing-masing barang tersebut dimuat dalam tiga kapal layar-demi bertahan hidup.

Rombongan Aceh yang tiba di Istanbul dengan kapal bermuatan lada, komoditi paling berharga zaman itu ditugaskan Sultan Alauddin mempersembahkan lada yang dibawa kepada Sultan Sulaiman. Lada yang dibawa itu juga menjadi sumber perbelanjaan selama rombongan itu di Istanbul menanti dibenarkan menghadap Sultan Sulaiman yang sedang memimpin tenteranya di Hungary. Akhirnya, Sultan Sulaiman mangkat pada 1566 dan jasadnya dibawa pulang untuk dimakamkan di Masjid Sulaimaniye, Edirne.

Hanya  tinggal Lada sebanyak setengah bambu (Lada Sicupak) yang bisa dipersembahkan kepada Raja Turki Usmani. Selain itu, pada De Hikajat Atjeh dikisahkan juga tentang kunjungan utusan Kerajaan Turki ke Aceh untuk mencari obat bagi Raja Turki yang sedang mengidap suatu penyakit. Setelah mendapatkan obat yang dicari, maka pulanglah utusan tersebut dari Aceh dan dilaporkanlah kepada Sultan Turki Usmani tentang kemegahan Kerajaan Aceh. Sultan pun mengatakan pada wazirnya, “Pada masa lampau di Bumi atas kehendak Allah terdapat dua Raja besar yaitu Nabi Sulaiman dan Raja Iskandar Zulkarnain, maka pada zaman sekarang atas kehendak Allah terdapat dua raja yang amat besar, kita di Barat dan Sri Sultan Perkasa `Alam Raja di Timur.”

Sayangnya, di dalam hikayat-hikayat tersebut tidak   didapatkan informasi secara jelas tentang raja yang berkuasa di Turki dan di Aceh  saat itu. Namun, berdasarkan sumber yang lebih terpercaya sebagaimana  ditulis oleh Muhammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, pengiriman bantuan dari Turki ke Aceh terjadi ketika Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar berkuasa di Aceh. Apabila kita membaca  sumber yang ditulis sejarawan asing, baik dari Turki ataupun negara lain, disebutkan bahwa hubungan Kerajaan Aceh dan Turki telah terjalin sepanjang abad ke-16 sampai awal abad ke-17.

Kerajaan Aceh menjalin hubungan dengan Turki semenjak Turki Usmani berada di bawah kekuasaan Sultan Selim I, kemudian berganti Sultan Sulaiman I, sampai masa Sultan Selim II, bahkan berlanjut lagi pada abad ke-19 ketika kekuasaan di tangan  Sultan Abdulmejid II. Sumber Turki, Ismail Hakki Goksoy, menyebutkan, Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar mengirim surat kepada Sultan Sulaiman melalui duta besar Hussein bertanggal 7 Januari 1566 dengan tujuan meminta bantuan militer untuk memerangi pasukan Portugis.

Namun, bantuan berupa ahli perang, kapal, meriam, tentara bersenjata lengkap tidak dapat segera dikirimkan dikarenakan beberapa peristiwa yang terjadi di Istanbul pada saat itu, termasuk juga peristiwa pengangkatan Sultan Selim II menggantikan Sultan Sulaiman yang mangkat. 

Istanbul Turki saat itu pernah dikenali sebagai "Islambul" yang bermaksud Kota Islam yang dibelah dua oleh Selat Bosphorus, memisahkan benua Asia dari Eropah. Menara masjid yang kelihatan di mana saja di kota itu  menggambarkan pengaruh Islam yang kuat sepanjang 471 tahun era Uthmaniyah di Istanbul. Sejak 1453 hingga 1924 iaitu dari detik Muhammad Al-Fateh membuka kota Constantinople hingga ke saat Mustafa Kamal Atarturk mengisytiharkan berakhirnya institusi Khalifah Uthmaniyah di Turki, 1001 peristiwa tercatat di lembaran sejarah Islam.

Keagungan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, pemimpin empire Uthmaniyah yang mewariskan kemegahan Islam melalui perluasan jajahan takluk dan penyebaran agama Islam, masih disebut hingga hari ini. Mungkin kejayaan itulah yang menjadi inspirasi kepada Sultan Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar, hingga merangsang beliau menghantar wakil diplomatik ke Istanbul. 


Saat itu, Ancaman Portugis di Nusantara para rombongan Aceh turut menceritakan hal itu kepada Sultan, maka baginda mengerahkan armadanya bersama meriam Turki, Ahli pembuat meriam dan senjata api pulang bersama rombongan Aceh. Pelabuhan Melaka bersejarah adalah kota rebutan di Selat Melaka yang menyaksikan kehadiran tiga kuasa Eropah sejak 1511 berpunca pada perdagangan rempah yang dikuasai pedagang Islam yang berulang alik antara dunia timur dan barat.
 
Makam Ulama Turki Salahuddin di Aceh ( Teungku Di Bitay)
Selama keberadaannya di Aceh, utusan yang dikirim dari Kerajaan Turki telah banyak memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap Kerajaan Aceh. Di samping hubungan dagang antara dua kerajaan tersebut, Turki Usmani juga mendirikan akademi militer di Kerajaan Aceh yang telah mencetak pemimpin perang tangguh. Salah satunya  Laksamana Keumalahayati. Keumalahayati adalah seorang  perempuan Aceh yang pernah memimpin berpuluh kapal perang, yang di setiap kapal tersebut terdapat ratusan tentara. Di samping itu, Goksoy juga menyebutkan dalam tulisannya tentang bendera Kerajaan Aceh yang berlatar merah bersimbolkan bulan sabit dan bintang putih dengan pedang di bawahnya.

Ini semua  pengaruh dari Kerajaan Turki Usmani. Hubungan antara dua kerajaan berlanjut lagi pada pertengahan abad ke-19 ketika Belanda menjajah Aceh. Sultan Aceh meminta bantuan kembali kepada Turki Usmani agar mengirimkan pasukan dan juga meminta kerajaan Aceh agar ditegaskan sebagai bagian dari Turki Usmani. Tujuannya  agar Belanda tidak dapat menguasai tanah Aceh.

Namun, pada abad ini Turki Usmani telah mengalami kemunduran pesat karena kekuatan Eropa yang semakin kuat dan semakin berkuasa di tanah Turki. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan, walaupun Turki Usmani mengirimkan sejumlah utusannya ke Aceh. Sekalipun tidak berhasil mengusir penjajah dari Melaka, kesultanan Aceh memberi isyarat jelas kepada Portugis bahwa Aceh bukan negara sembarangan, dan kerajaan Islam terbesar di nusantara itu turut mempunyai sekutu dan sangat disegani di tanah Eropa.

Setelah sekian lama tidak berhubungan dengan Aceh, Turki kembali mengirimkan bantuan kemanusiaannya setelah bencana gempa dan tsunami terjadi pada akhir tahun 2004. Tidak hanya berhenti pada saat itu, Turki terus melanjutkan bantuannya dengan mendirikan Sekolah Fatih dan juga memberikan bantuan berupa beasiswa bagi pemuda-pemudi Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan S1, S2 dan S3 ke Turki. Setiap tahunnya sejak tahun 2007, jumlah masyarakat Aceh yang menempuh studi di Turki semakin bertambah, khususnya pada tingkat strata-1 dengan bidang ilmu yang bervariasi seperti teknik,  kedokteran, politik, komputer, hingga  sejarah. Semoga saja persahabatan dua negara muslim ini akan mengulangi kejayaan Islam  seperti abad keemasan Islam pada masa lalu.
 

Politsi PDIP Asal Aceh ini Mendukung Kudeta Turki, Walau Sudah Minta Maaf Namun Netizen Masih Membully

Banda Aceh | Seorang pengguna media sosial Facebook bernama Helmy N Hakim mendadak mendapat sorotan para netizen. Ini karena pria asal Aceh ini membuat status yang sedikit bertentangan dengan mayoritas pada umumnya. Helmi menyatakan ia mendukung kudeta militer di Turki. Helmi yang juga dikenal sebagai politisi PDI Banda Aceh ini memposting sebuah berita pada Sabtu pagi 16 Juli 2016.

Schrenshot dari facebook Helmy N. Hakim
Judul berita tersebut adalah militer turki umumkan mengambil alih kekuasaan dari BBC.
Helmi kemudian juga menulis,” Kabar gembira untuk kita semua, presiden turki kini ada ekstraknya :p. Akhirnya Erdogan berakhir. Selamat kepada Militer Turki yang sudah menyelamatkan masa depan Turki. PKS yang sabar ya bro."
"Pernyataan oleh 'kelompok militer' yang disiarkan televisi TRT mengatakan bahwa 'tatanan hukum dan nilai-nilai sekuler dan demokratis telah dirusak oleh pemerintah yang berkuasa saat ini."
"Akan ada konstitusi baru," demikian pernyataan dari 'kelompok militer'. Hingga tengah malam waktu setempat belum diketahui dengan jelas kelompok militer ini dan muncul beberapa laporan bahwa sejumlah jenderal senior ditahan."
Status Helmi yang kontroversial ini kemudian ditanggapi beragam oleh para netizen lainnya. Mayoritas netizen membully Helmi karena dinilai kurang update dari memposting berita.
“Mas Helmy N Hakim ayo minta maaf sama bangsa indonesia,” tulis Fahad Abdullah Bahmuddah.
“Biar dianya fenomenal.. ayo kita bagikan.. biar bantengnya masuk got.. haha,” tulis D'guh.
“Sikap saya tetap anti erdogan dan mendukung setiap upaya menjatuhkannya,” balas Helmi distatus tersebut.
Hingga pukul 12.00 WIB Sabtu (16/7/2016), pernyataan Helmi sudah terdapat 368 komentar. Padahal baru diposting 4 jam. []

Inilah isi permintaan maaf politisi PDI Perjuangan Helmy N. Hakim yang dikutip dilaman akun facebook pribadinya pada 17 Juli 2016. 
  
Assalamualaikum Wr.Wb
Setelah menimbang dengan matang, atas anjuran kerabat dan teman dekat dan kesadaran pribadi yang saya peroleh setelah Shalat Istikharah dengan ini saya menyatakan permintaan maaf atas status saya yang mendukung kudeta militer Turki yang mungkin menyinggung dan menyakiti hati publik/kelompok.
Dalam menghadapi situasi politik tertentu terkadang kita khilaf terburu-buru mengambil sikap politik yang dalam pertimbangan saya bahwa itu kasus di luar negeri bukan dalam negeri. Dalam konteks pemberitaan kudeta militer Turki, saya telah terburu-buru mengambil sikap. Yang berkembang jadi kontroversi dan kemudian dimanfaatkan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengembangkan fitnah-fitnah baru terhadap saya.
Semoga dengan permintaan maaf ini bisa membantu memulihkan hati yang tersinggung dan terluka atas sikap pribadi saya terhadap peristiwa kudeta militer Turki yang gagal. Saya berharap Bangsa Turki melalui cobaan ini dengan selamat sentosa dan sukses mempertahankan demokrasi di Turki.
Lebih dan kurang atas pernyataan ini semoga bisa menuntaskan segala kontroversi terkait pernyataan sikap politik pribadi saya melalui status kemarin pagi.
PS: terima kasih tak terhingga atas kawan-kawan yang telah memberi dukungan moral yang hadir lewat inbox facebook yang tidak mungkin saya sebut satu persatu. :)
Silahkan ditanggapi dengan santun dan bijak :)

Selasa, 12 Juli 2016

"Salah Paham Terhadap Aceh" (Khususnya untuk Orang Jawa dan Sekitarnya Mohon dibaca Sampai Habis)

Khususnya untuk Orang Jawa dan Sekitarnya Mohon dibaca Sampai Habis
"Salah Paham Terhadap Aceh"
Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka kembali luka lama Aceh tetapi hanya untuk meluruskan sejarah yang ada.
Kenapa harus Aceh?

Pencarian saya tentang sejarah Aceh berawal dari kesalahpahaman teman saya di Kairo dengan mahasiswa Aceh yang juga teman saya di Kairo, bahwa mahasiswa Aceh di sana itu eksklusif, tertutup, dan suka membanggakan suku sendiri (contohnya seperti penyebutan masyarakat Aceh yang berubah menjadi rakyat Aceh). Seketika timbul pertanyaan di benak saya : Kenapa dengan orang Aceh? Ada apa dengan mereka? Apa sebabnya teman saya mengatakan seperti itu?. Lalu, saat saya meminta klarifikasi langsung dari salah satu teman saya yang menjadi mahasiswa Aceh di sana via Facebook, saya mendapatkan satu kesimpulan bahwa “Orang Aceh pernah punya pengalaman buruk di masa lalu dengan orang Jawa”. Dan saat itu saya baru teringat bahwa teman saya yang salah paham itu adalah orang Jawa.
Tentara Jawa di Aceh (ilustrasi)
Pada awalnya pun saya sempat agak terpengaruh juga dengan ucapan teman saya karena jujur saja, saya paling tidak suka dengan orang yang sukuis (membanggakan suku sendiri lebih baik dari suku yang lain) tapi saya juga tidak bisa menilai dari satu pihak saja, saya harus mencari sendiri apa penyebabnya.
Pikiran saya langsung tertuju pada cerita teman saya yang mahasiswa Aceh bahwa, “Mereka yang di kuburkan di kuburan Kherkof Belanda di Aceh kebanyakan adalah orang-orang Pribumi, bisa dikatakan orang-orang Jawa yang meninggal di Aceh karena termakan taktik devide et impera-nya Tentara Belanda juga ikut di kubur di situ”. Tak hanya itu, saya langsung teringat dengan komentar Pramudya Ananta Toer terhadap Novel Bidadari Hitam yang di tulis oleh T.I Thamrin-orang Aceh asli, “Setiap kali ada yang datang dari suku Aceh, saya selalu minta maaf sebagai orang Jawa. Sudah lebih 100 tahun orang Jawa memerangi Aceh, saya ikut-ikutan bersalah…”.
Dialog-dialog yang ada di dalam Novel tersebut pun membuat saya jadi makin penasaran dengan apa yang terjadi pada Aceh di masa lalu…
“Tidak, nong. Nama kita semua adalah Aceh. Karena itu kita memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di mata orang Jakarta. Aceh yang pernah menolong dan memberi makan mereka, membelikan mereka 2 pesawat terbang, membiayai NKRI yang lagi terjepit ekornya. Tapi, ketika mereka sudah berani mengambil sendiri di lumbung kita, mereka melecehkan, memburu dan membunuh kita seperti kecoak. Kita bilang, silahkan ambil tapi jangan mencuri dan jangan kemaruk, lalu mereka marah besar, menuduh kita pemberontak, karena itu wajib dibunuh. Perempuan kita yang melawan juga diburu dan diperkosanya, seperti tak malu pada Ibu dan saudarinya sendiri. Seperti Ibu dan saudarinya bukan perempuan saja.”.
Timbul banyak pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya, “Ada apa dengan Aceh pada masa lalu? Kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Alasan apa yang menyebabkan Aceh sampai ingin bergabung dengan NII dan mendirikan DI/TII atau GAM? Kenapa Pemerintah pada jaman dulu (era Presiden Sukarno sampai Presiden Megawati) harus bertindak brutal, kejam dan sadis hanya karena ingin mempertahankan Aceh untuk tetap di wilayah NKRI? Kenapa cara-cara tersebut harus di lakukan oleh Pemerintah?”
Dan dari situ saya baru menyadari bahwa ada potongan sejarah lain yang belum saya ketahui dari Aceh.

Aceh masa lalu adalah Sebuah Negara.
Tak etis rasanya bila saya tidak menceritakan saat Aceh masih menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri.

Sejarawan Said ‘Alawi Thahir al-Haddad dalam bukunya “Al-Madkhal ilaa Taarikh al-Islam fi al-Syarq al-Aqsa” menyebutkan satu dokumen kuno dari Dinasti Yang di Cina, yang menceritakan pada tahun 518 M telah datang kepada raja Cina utusan dari kerajaan Puli yang terletak di ujung utara pulau Sumatera (kerajaan Puli adalah kerajaan Puli atau Indra Puri yang memang telah ada di Aceh sebelum Islam datang. Namun, karena kesulitan mengucap huruf R dalam dialek Cina, maka berubah menjadi L sehingga tertulis “Puli” dalam dokumen Dinasti Yang tersebut. Sisa-sisa dari kerajaan ini masih bisa ditemukan di kawasan Indra Puri, Aceh Besar). Dokumen ini juga menceritakan bahwa kerajaan Puli terbagi dalam 136 wilayah dengan luas wilayah 50 hari perjalanan kaki dari utara ke selatan dan 20 hari perjalanan kaki dari barat ke timur. Dokumen ini membuktikan bahwa sejak abad ke-6 M, orang-orang yang mendiami daerah pesisir Aceh telah mengenal suatu tata cara kehidupan yang berperadaban cukup maju dibanding kawasan-kawasan lain di Nusantara, kecuali kawasan pinggiran sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dimana kerajaan Hindu Kutai telah berdiri sejak abad ke 5 M, begitu juga kawasan Jawa Barat dengan kerajaan Taruma Negaranya.
Daerah pesisir utara Aceh mulai disinggahi para pedagang Muslim dari Malabar di India atau langsung dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M (1 H), sebagaimana disebutkan L. Van Rijck Vorsel dalam bukunya “Riwayat kepulauan Hindia Timur”. Ia juga menyebutkan bahwa orang-orang Arab telah lebih dahulu tiba di Sumatera 750 tahun sebelum kedatangan Belanda ke sana.
Namun, kerajaan Islam baru muncul pada awal abad ke-9 M. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pertama di Aceh adalah kerajaan Peureulak di pesisir timur Aceh yang berdiri pada tahun 804 M, kerajaan Lamuri dan Samudra Pasai di pesisir utara Aceh.
Pada awal abad ke 16 M, berdirilah kerajaan Islam Aceh Darussalam yang berbentuk kesultanan Aceh dengan raja pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah (1513-1530) putra dari sultan Syamsu Syah dan cucu dari sultan Inayat Syah dari kerajaan Lamuri. Kerajaan Aceh Darussalam yang lahir pada tanggal 12 Dzulqa’idah 916 (1513 M) adalah sebuah kerajaan Federasi yang terdiri dari kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam Samudra Pasai, kerajaan Lamuri, kerajaan Islam Lamno Jaya, kerajaan Islam Lingge, kerajaan Islam Pedir dan kerajaan Islam Teuming. Peleburan kerajaan-kerajaan Islam Aceh dalam satu wadah itu kemudian diberi nama kerajaan Aceh Raya Darussalam, atau lebih dikenal dengan proklamasi Samudra Pasai.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia mampu menempatkan kerajaan Islam di Aceh pada peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Kelima kerajaan Islam tersebut adalah kerajaan Islam Turki Utsmani di Istanbul, kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, kerajaan Islam Akra di India dan kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara. (Mutiara Fahmi, tesis: Gerakan Kemerdekaan di Aceh dalam pertimbangan Hukum Islam, 2006, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 70-72)

Lalu kenapa Aceh pernah sangat ingin memisahkan diri dari NKRI?
Berikut ini adalah beberapa faktor kenapa Aceh pernah ingin memisahkan diri dari NKRI:
Sikap pemimpin RI yang dipandang oleh Tgk. Daud Beureueh telah menyimpang dari jalan yang benar.
Karena pada waktu itu Presiden Sukarno pernah berjanji memberikan hak kepada Aceh untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam dan janji tersebut tak pernah diwujudkan. Hal ini diperkuat oleh pengakuan saksi dan pelaku sejarah Tgk. H. Syech Marhaban Hasan yang menceritakan, saat kunjungan Soekarno ke Aceh, Soekarno pernah meminta kepada Tgk. Daud Beureueh untuk membantu perang bersenjata antara Indonesia dengan Belanda, Daud Beureueh menyanggupi asalkan dengan 2 syarat : perang yang dikobarkan adalah perang Fisabilillah dan rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya apabila perang telah usai. Akhirnya Soekarno menyanggupi 2 syarat tersebut, Namun, Daud Beureueh meragukan janji Soekarno dan meminta Soekarno untuk menuliskan janjinya tersebut di atas secarik kertas. Melihat hal itu, Soekarno langsung menangis terisak-isak dan merasa tidak dipercaya. Melihat Soekarno menangis, Daud Beureueh menjadi terharu dan kemudian berkata, “Bukan kami tidak percaya saudara presiden. Akan tetapi, hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”. Lalu Soekarno menyeka air matanya dan menjawab: “Wallahi, Billahi, kepada Daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syari-at Islam. Dan Wallahi, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya”. Menurut keterangan Daud Bereueh, karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, dirinya tak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno. (Ibid, hlm. 119-121)
Kekecewaan rakyat Aceh saat status propinsi Aceh yang belum genap berumur setahun dibubarkan oleh kebijakan Pemerintah Pusat dan menggabungkannya dengan Propinsi Sumatera Utara (yang berbeda latar belakang serta kebudayaannya) dengan alasan yang cukup ironis yaitu karena bertentangan dengan hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang hanya mengakui 10 propinsi dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS). Padahal, RIS itu sendiri justru lahir dan mendapat pengakuan Internasional karena masih adanya Aceh sebagai satu-satunya wilayah modal Indonesia yang tidak dapat kembali di duduki oleh Belanda dalam perjuangan fisik. (Ibid, hlm. 121)
Saat Aceh masih menjadi sebuah Negara, Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda, sehingga secara hukum, Aceh bukan Hindia Belanda dan dengan demikian saat Hindia Belanda menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis berada di dalamnya. Menurut teori Ilmu Negara dan Hukum Internasional, bangsa dan Negara Aceh belum lebur tapi bermasalah. Hilangnya status suatu bangsa dan negara menurut Sofyan Ibrahim Tiba, SH (juru runding Gerakan Aceh Merdeka) karena satu dari dua alasan, yaitu alasan alam, seumpama buminya hancur atau tenggelam. Dan alasan sosial politik, jika negara atau bangsa itu telah menggabungkan diri ke dalam atau bersama bangsa lain. Oleh karena itu, menurut GAM, penggabungan Aceh ke dalam Indonesia saat proklamasi 17 Agustus 1945 belum sah dan merupakan kekeliruan ketata-negaraan. Aceh menurutnya, sejak proklamasi tidak pernah menyatakan bergabung dengan NKRI seperti halnya Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman melalui keputusan Kotikokootai (Dewan Perwakilan Rakyat) tanggal 19 Agustus 1945. (Ibid, hlm. 141-142)
Karena perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat terhadap Aceh. Seperti sikap sentralistik pemerintah Orba terhadap Aceh yang telah melahirkan kesenjagan sosial-ekonomi yang cukup mencolok di daerah istimewa Aceh. Sebagai contoh, penerimaan APBD propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1997/1998 hanya berkisar 150 milyar dari +/- Rp. 32 triliun yang disumbangkannya untuk negara pada tahun yang sama. Artinya, apa yang diterima Aceh tidak sampai 0,5 % dari total yang disumbangkannya. (lihat Said Mudhakar Ahmad, Masalah Aceh: Dilema antara Sikap, Martabat dan Rasa Keadilan, Waspada (Harian), Medan 31 Agustus 1998). (Ibid, hlm. 82).
Alih-alih ingin mengamankan situasi dari tindakan suatu gerakan yang disebut pemerintah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM), banyak korban sipil yang menjadi korban pelanggaran HAM berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against Humanity) dalam pemberlakuan status DOM tersebut. Seperti adanya pembunuhan, adanya penyiksaan atau penganiayaan baik secara fisik maupun mental, adanya penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, adanya kekerasan seksual, adanya penghilangan paksa dll. (untuk mengetahui lebih jauh tentang jumlah korban DOM, lihat buku yang ditulis oleh Al-Chaidar, (Ibid, hlm. 84).
Karena efek dari kesalahpahaman teman saya inilah yang akhirnya membuat saya menjadi jatuh cinta pada Aceh dan masa lalunya. Seharusnya mereka yang kontra terhadap pemberlakuan syari’at Islam di Aceh dengan alasan karena terbentur dengan undang-undang yang ada di atasnya bisa mengingat kembali janji dan sumpah Presiden Sukarno dulu terhadap Tgk Daud Beureueh-khususnya pada rakyat Aceh.
Oleh: Sarah Mantovani, SH.